Mengapa Rute Pesawat di Peta Selalu Tampak Melengkung

Pratiwi - Sabtu, 24 Januari 2026 22:42 WIB
null

(sijori.id) - Sekilas, rute penerbangan antarkota di peta dunia tampak berliku dan tidak efisien. Garisnya melengkung, seolah pesawat sengaja memutar jauh dari tujuan. Namun, di balik lengkungan itu tersimpan prinsip geografi dan fisika yang justru membuat perjalanan udara lebih hemat waktu dan bahan bakar.

Maskapai penerbangan selalu memilih jalur terpendek antara dua titik. Di permukaan datar, jarak terpendek memang berupa garis lurus. Tetapi Bumi bukanlah bidang datar. Planet ini berbentuk bola pepat (oblate spheroid), sehingga aturan geometri datar tidak sepenuhnya berlaku.

Di permukaan bola, jalur terpendek antara dua titik dikenal sebagai great circle route. Jalur ini bukan mengikuti garis lintang yang konstan, melainkan membentuk lengkungan alami mengikuti kelengkungan Bumi.

Untuk memahaminya, bayangkan Bumi seperti sebuah jeruk. Tentukan dua titik sebagai titik keberangkatan dan tujuan. Lalu, iris jeruk tersebut dengan pisau yang menembus kedua titik dan melewati pusat jeruk. Lingkaran hasil irisan itulah yang disebut great circle—lintasan terpendek yang mungkin di permukaan bola.

Contohnya dapat dilihat pada penerbangan dari New Delhi ke San Francisco. Alih-alih terbang lurus melintasi Samudra Pasifik, pesawat justru melengkung ke utara, melewati Asia Tengah, Rusia, hingga kawasan Arktik sebelum memasuki Amerika Utara. Meski tampak lebih jauh di peta, jalur ini sebenarnya lebih pendek dan lebih efisien.

Lengkungan rute penerbangan yang sering kita lihat bukanlah kesalahan navigasi, melainkan bukti bagaimana manusia menyesuaikan teknologi dengan bentuk planet yang ditinggalinya—mengikuti geometri Bumi demi efisiensi, keselamatan, dan ketepatan. (*)

RELATED NEWS