Mengenal Carina Hong, Pembuat AI Matematika

Pratiwi - Sabtu, 27 Desember 2025 20:19 WIB
Carina Hong, pendiri startup AI Axiom Math. Di usia 24 tahun, ia meninggalkan program doktoral Stanford untuk mengembangkan kecerdasan buatan berbasis matematika tingkat lanjut. Foto: Dok. MIT

(sijori.id) - Di usia 24 tahun, nama Carina Hong mendadak mencuri perhatian dunia teknologi global. Matematikawan kelahiran China ini memilih keluar dari program doktoral Stanford demi membangun Axiom Math, startup kecerdasan buatan (AI) yang fokus menaklukkan persoalan matematika tingkat tinggi.

Didirikan pada Maret lalu, Axiom Math melesat cepat. Pada September, perusahaan rintisan tersebut mengantongi pendanaan awal (seed funding) sebesar USD 64 juta. Hong kini memimpin tim berisi 17 orang, mayoritas direkrut dari laboratorium elite seperti Meta FAIR, tim GenAI Meta, serta Google Brain yang kini tergabung dalam DeepMind.

Axiom Math menempatkan matematika sebagai inti pengembangan AI tingkat lanjut. Di kalangan peneliti, kemampuan matematika dianggap fondasi penting menuju superintelligence. “Matematika adalah arena paling ideal untuk membangun superintelligence,” ujar Hong kepada Forbes.

Bakat yang Terasah Sejak Dini

Hong tumbuh di Guangzhou, China, dengan ketertarikan kuat pada matematika sejak kecil. Ia belajar bahasa Inggris secara otodidak demi membaca buku-buku matematika tingkat lanjut. Saat SMA di South China Normal University Affiliated High School, Hong menjadi satu dari empat siswi perempuan di tim Olimpiade Matematika provinsi.

Prestasinya mencakup kompetisi bergengsi seperti Hua Luogeng Cup dan National High School Mathematics League, sebagaimana dilaporkan media China, 36Kr. Dari pelatihan Olimpiade, ketertarikannya bergeser ke matematika riset.

“Matematika olimpiade itu seperti suntikan dopamin terus-menerus. Tapi matematika riset adalah soal membenturkan kepala ke tembok. Menyakitkan, dan justru itu yang saya sukai,” katanya kepada The Wall Street Journal.

Bakatnya mengantarkan Hong ke MIT, mengambil jurusan matematika dan fisika. Sebagai mahasiswa generasi pertama, ia menulis sembilan makalah riset dan mengikuti 20 mata kuliah matematika tingkat lanjut. Pada 2023, Hong meraih Frank and Brennie Morgan Prize, penghargaan prestisius di bidang teori bilangan dan probabilitas.

Ia kemudian menjadi Rhodes Scholar di Oxford University dan meraih gelar master di bidang computational neuroscience, sebelum melanjutkan ke Stanford untuk studi hukum dan doktor matematika—yang akhirnya ia tinggalkan.

Keputusan Besar di Kedai Kopi

Akhir pekan Hong kerap dihabiskan di sebuah kedai kopi dekat kampus Stanford, ditemani matcha latte. Di tempat itu pula ia bertemu secara tak sengaja dengan Shubho Sengupta, peneliti AI Meta, yang kemudian menjadi anggota pertama Axiom.

Percakapan mereka berputar pada mimpi besar: AI yang mampu memecahkan persoalan matematika tersulit dan bahkan menemukan teori baru. Saat berlari pagi dan menimbang masa depan, Hong teringat nasihat CEO AMD Lisa Su: lari menuju masalah paling sulit.

Keputusan pun diambil. Hong keluar dari Stanford tak lama setelah pendanaan Axiom rampung.

Nama Axiom diambil dari istilah matematika tentang kebenaran dasar yang menjadi titik awal sebuah teori. Target Hong jelas: membangun “AI matematikawan” yang mampu memecahkan soal kompleks, menyusun pembuktian, sekaligus memverifikasi kebenarannya sendiri.

“Kami tidak sedang membuat chatbot lain yang meniru jawaban,” tegas Hong. “Kami mengajari AI untuk membuktikan teorema. Itu tantangan yang jauh lebih mendasar.”

Magnet Talenta Dunia

Dalam waktu kurang dari setahun, Hong berhasil menarik talenta papan atas. Selain Sengupta, Axiom merekrut Francois Charton, pemecah masalah matematika berusia 100 tahun, serta Aram Markosyan, ilmuwan AI yang sebelumnya memimpin riset keamanan dan keadilan di Meta.

Bahkan Ken Ono, matematikawan kelas dunia dan mentor Hong, ikut bergabung. Profesor University of Virginia berusia 57 tahun itu mengaku tertarik karena tantangan intelektual, bukan materi. “Saya tidak melakukannya demi uang,” ujarnya.

Ono bertugas merancang soal-soal kompleks untuk menguji batas kemampuan AI Axiom. Ia mengibaratkannya seperti peta bagi pelaut sebelum menjelajah wilayah baru.

Sejak masa awal—saat kantor hanya berisi meja lipat plastik dan sofa pinjaman—ambisi Hong sudah menjadi daya tarik utama. Selain matematika murni, Axiom menargetkan aplikasi komersial di bidang yang membutuhkan penalaran dengan kepastian tinggi, seperti verifikasi perangkat keras dan lunak, keuangan kuantitatif, hingga kriptografi.

“Banyak peneliti terbaik yang mengatakan bahwa memecahkan superintelligence matematika akan menjadi warisan hidup mereka,” kata Hong. “Saat masalahnya cukup sulit, kepadatan talenta akan tinggi, dan itu akan menarik pemikir hebat lainnya.” (*)

Editor: Pratiwi
Tags AI DeepMindBagikan

RELATED NEWS