Pernah Ditolak NASA, Claire Parfitt Kini Pimpin Studi Mars di ESA

Pratiwi - Sabtu, 11 Juli 2026 17:30 WIB
null

(sijori.id) - Surat lamaran yang dikirim Claire Parfitt kepada NASA saat berusia 14 tahun memang berakhir dengan penolakan. Namun, pengalaman itu tidak menghentikan mimpinya berkarier di bidang antariksa.

Dua puluh lima tahun kemudian, Parfitt justru menjadi salah satu tokoh penting dalam eksplorasi Mars. Ia kini menjabat sebagai Mars Exploration Study Lead di European Space Agency (ESA) atau Badan Antariksa Eropa, dengan tanggung jawab memimpin studi dan persiapan teknologi untuk misi-misi masa depan ke Planet Merah.

Selain itu, Parfitt juga menjadi perwakilan ESA dalam International Mars Exploration Working Group, forum internasional yang mempertemukan berbagai badan antariksa dunia untuk menyelaraskan strategi eksplorasi Mars.

Berawal dari Program Magang di Pusat Sains

Pada 2001, menjelang pembukaan National Space Centre di Leicester, Inggris, Parfitt menjalani program pengalaman kerja di pusat sains tersebut.

Salah satu tugasnya saat itu adalah membantu menyiapkan berbagai koleksi pameran, termasuk membersihkan dan memasang sebuah toilet antariksa untuk dipajang kepada publik.

Kesempatan tersebut datang setelah NASA menolak permohonannya untuk mengikuti program kerja di lembaga antariksa Amerika Serikat.

Meski gagal bergabung dengan NASA saat remaja, pengalaman di National Space Centre justru semakin memperkuat minatnya terhadap dunia antariksa.

Menempuh Pendidikan Fisika hingga Doktor

Parfitt kemudian menempuh pendidikan sarjana di bidang fisika sebelum melanjutkan studi doktoral yang berfokus pada rekayasa sistem tenaga untuk wahana antariksa.

Karier profesionalnya dimulai sebagai systems engineer di industri antariksa Inggris. Ia terlibat dalam sejumlah proyek penting, termasuk program ExoMars, misi ESA yang dirancang untuk mencari jejak kehidupan masa lalu maupun saat ini di Mars.

Program tersebut mencakup rover Rosalind Franklin, kendaraan penjelajah yang dirancang mampu mengebor hingga kedalaman dua meter di bawah permukaan Mars guna mengambil sampel yang terlindung dari paparan radiasi.

Selain ExoMars, Parfitt juga ikut mengerjakan proyek SMILE (Solar wind Magnetosphere Ionosphere Link Explorer), misi kolaborasi antara ESA dan Chinese Academy of Sciences yang mempelajari interaksi angin Matahari dengan magnetosfer Bumi.

Kini Memimpin Persiapan Misi Mars

Setelah bergabung dengan European Space Research and Technology Centre (ESTEC) di Belanda, Parfitt bekerja di Concurrent Design Facility, pusat yang mengembangkan dan mengevaluasi konsep awal berbagai misi antariksa.

Keahliannya dalam studi eksplorasi Mars kemudian membawanya ke Direktorat Human and Robotic Exploration ESA.

Sejak 2023, ia dipercaya sebagai Mars Exploration Study Lead, posisi yang berfokus pada penyusunan studi ilmiah, pengembangan teknologi, dan koordinasi internasional untuk mendukung misi manusia ke Mars di masa depan.

Menyiapkan Jalan Menuju Misi Berawak ke Mars

Hingga kini belum ada badan antariksa yang memiliki jadwal pasti untuk mengirim manusia ke Mars.

Perjalanan pulang-pergi yang diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga tahun, paparan radiasi tinggi, serta kebutuhan sistem pendukung kehidupan yang jauh lebih kompleks dibanding misi ke orbit Bumi menjadi tantangan utama.

Dalam perannya, Parfitt bersama timnya mempersiapkan berbagai fondasi yang dibutuhkan sebelum misi tersebut benar-benar dapat diwujudkan.

Melalui International Mars Exploration Working Group, ESA bekerja sama dengan berbagai lembaga antariksa seperti NASA, JAXA (Jepang), dan mitra internasional lainnya untuk menyusun tahapan eksplorasi Mars, mulai dari misi robotik, pengembalian sampel, studi lingkungan permukaan, hingga pengembangan teknologi yang diperlukan bagi misi berawak.

Mimpi yang Terwujud Lewat Ketekunan

Perjalanan Claire Parfitt menunjukkan bahwa kegagalan di awal bukanlah akhir dari sebuah cita-cita.

Dari seorang remaja yang pernah ditolak NASA dan hanya membantu menyiapkan pameran toilet antariksa di sebuah pusat sains di Inggris, ia kini menjadi salah satu sosok yang berperan penting dalam menyusun masa depan eksplorasi manusia ke Mars.

Kariernya dibangun melalui pendidikan, riset, dan pengalaman teknik selama bertahun-tahun, membuktikan bahwa ketekunan dan konsistensi dapat membuka jalan menuju proyek-proyek antariksa paling ambisius di dunia. (*)

RELATED NEWS