Proses Serangan Asma di Dalam Paru-Paru
(sijori.id) - Bayangkan bernapas melalui sedotan kopi tipis sambil dada terasa ditekan. Gambaran itu kerap digunakan untuk menjelaskan bagaimana rasanya serangan asma. Namun, apa sebenarnya yang terjadi di dalam tubuh saat kondisi tersebut muncul?
Prosesnya terjadi di bronkiolus, yakni saluran udara kecil yang berada jauh di dalam paru-paru. Di sekeliling saluran ini terdapat jaringan otot halus yang berfungsi mengatur keluar-masuknya udara. Pada penderita asma, sistem imun cenderung lebih sensitif dibandingkan orang pada umumnya.
Ketika pemicu seperti serbuk sari, debu, atau udara dingin masuk ke saluran napas, tubuh menganggapnya sebagai ancaman berbahaya. Reaksi ini memicu tiga proses utama yang dikenal sebagai “triad asma”.
Pertama adalah bronkokonstriksi. Otot di sekitar saluran napas mendadak mengencang dan menyempitkan jalur udara, sehingga aliran napas menjadi terbatas. Kondisi ini membuat penderita merasa sesak.
Kedua, terjadi peradangan. Sistem imun mengirimkan cairan ke dinding saluran napas sehingga jaringan membengkak. Akibatnya, ruang untuk lewatnya udara semakin sempit.
Ketiga, tubuh memproduksi lendir berlebih. Lendir yang kental dan lengket ini bertujuan menangkap benda asing, namun justru menyumbat saluran napas yang sudah menyempit.
Gabungan ketiga proses tersebut menyebabkan udara terperangkap di paru-paru. Udara masih bisa masuk, tetapi sulit dikeluarkan. Kondisi inilah yang membuat paru-paru terasa penuh dan napas menjadi berat.
Untuk mengatasi serangan, penderita biasanya menggunakan inhaler darurat. Obat yang dihirup bekerja langsung pada otot saluran napas, membantu otot kembali rileks sehingga jalur udara terbuka dan pernapasan membaik.
Asma pada dasarnya bukan sekadar gangguan napas biasa. Kondisi ini merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh yang berusaha melindungi diri, tetapi bereaksi secara berlebihan terhadap pemicu tertentu. (*)
