Rahasia Rasa Jahe: Beda Potong, Beda Pedas

Pratiwi - Kamis, 19 Februari 2026 08:33 WIB
null

(sijori.id) - Resep boleh sama. Bahannya juga sama-sama jahe. Tapi kenapa rasanya bisa berbeda? Jawabannya ternyata sederhana: cara memotongnya.

Jahe memang identik dengan rasa pedas dan sensasi hangat. Namun, tingkat kepedasan dan kekuatan aromanya sangat dipengaruhi oleh teknik pengolahan.

Pertama, jahe geprek. Teknik ini menghasilkan aroma yang keluar perlahan. Rasanya hangat dan lembut. Cocok untuk hidangan berkuah seperti sup, soto, atau minuman hangat.

Kedua, jahe iris tipis. Aromanya lebih wangi, rasanya lebih bersih dan seimbang. Model ini pas untuk tumisan, mie goreng, hingga infused water.

Berikutnya, iris korek atau kating. Potongan memanjang ini menghadirkan sensasi pedas yang lebih berani. Begitu masuk mulut, hangatnya langsung terasa. Ideal untuk hidangan kukus atau kuah dengan cita rasa kuat.

Naik level, ada jahe cincang. Semakin kecil potongannya, semakin “galak” rasanya. Pedas dan aromanya lebih nendang. Biasanya dipakai dalam masakan Asia yang kaya rempah.

Terakhir, jahe parut. Ini level paling tajam. Pedasnya paling terasa dan efek hangatnya paling kuat. Sangat cocok untuk bumbu dasar, jamu, maupun minuman herbal.

Jadi, bukan semata soal banyak atau sedikitnya jahe. Tapi bagaimana cara memotongnya. Satu bahan, lima teknik, lima karakter rasa berbeda. (*)

RELATED NEWS