Seberapa Tangguh Ban Pesawat?
(sijori.id) - Ban pesawat bukan sekadar karet yang diperbesar. Ia dirancang untuk menahan tekanan ekstrem—setidaknya 40 ribu pon (≈ 18.144 kilogram (± 18,1 ton)) dalam sekali mendarat. Ketangguhan ini dibutuhkan karena kondisi kerja ban pesawat jauh lebih brutal dibanding ban kendaraan darat.
Saat pesawat mendarat, ban dalam posisi diam total. Namun, begitu menyentuh landasan pacu, ia harus berputar dan menyesuaikan diri dengan kecepatan sekitar 155 mil per jam (≈ 249 km/jam)dalam sekejap. Gesekan mendadak inilah yang memicu semburan asap hitam yang kerap terlihat setiap kali roda menyentuh aspal.
Jika ban biasa dipaksa bekerja dalam kondisi seperti itu, hasilnya bisa ditebak: meledak seketika. Ban pesawat dirancang berbeda. Materialnya sangat tahan aus dan panas. Bahkan pada suhu 200 hingga 400 derajat Fahrenheit (≈ 93–204 derajat Celsius), ban tetap stabil—tidak terbakar, tidak meleleh, dan tidak pecah.
Daya tahannya pun impresif. Satu ban pesawat bisa digunakan untuk 200 hingga 300 kali pendaratan sebelum harus diganti. Ketahanan ini menjadi krusial mengingat keselamatan ratusan penumpang bergantung padanya.
Namun, kekuatan tersebut tentu ada harganya. Satu ban pesawat baru dibanderol sekitar US$7.000 (≈ Rp109,9 juta). Pesawat komersial rata-rata menggunakan sekitar 10 ban, sementara pesawat raksasa seperti Airbus A380 membutuhkan 22 ban. Artinya, biaya ban saja bisa menembus lebih dari US$100.000 (≈ Rp1,57 miliar).
Pertanyaannya kemudian sederhana: dengan beban, panas, dan risiko yang harus ditanggung—masihkah harga itu terasa mahal? (*)
