Sekelumit Kisah tentang Garpu

Pratiwi - Sabtu, 17 Januari 2026 17:26 WIB
null

(sijori.id) - Penggunaan garpu sebagai alat makan tidak selalu diterima seperti saat ini. Dalam sejarah Eropa, garpu bahkan pernah dianggap bertentangan dengan ajaran agama dan dinilai sebagai tindakan yang tidak menghormati ciptaan Tuhan.

Sebelum dikenal luas di Barat, bangsa Yunani telah menggunakan alat menyerupai garpu untuk memasak dan menyajikan makanan. Adapun garpu pribadi untuk makan diyakini berasal dari Kekaisaran Bizantium.

Ketika garpu mulai dikenal di Eropa pada abad ke-11, reaksi keras muncul dari kalangan gereja. Para rohaniwan menyebut manusia telah dianugerahi “garpu alami”, yakni jari tangan. Penggunaan alat logam untuk makan dianggap sebagai bentuk kesombongan dan penghinaan terhadap kehendak Tuhan.

Pandangan tersebut bertahan selama berabad-abad. Selama hampir 500 tahun, garpu kerap dicemooh sebagai alat yang tidak perlu, tidak maskulin, dan bertentangan dengan etika makan yang lazim saat itu.

Persepsi itu mulai berubah pada abad ke-16, seiring meningkatnya konsumsi pasta di Italia. Makanan seperti spageti sulit disantap tanpa alat bantu, sehingga garpu mulai diterima sebagai kebutuhan praktis.

Penyebaran garpu di Eropa Barat semakin luas setelah Catherine de’ Medici memperkenalkannya ke istana Prancis. Dari sana, garpu bertransformasi dari simbol kontroversi menjadi penanda status sosial dan keanggunan di meja makan.

Kini, garpu menjadi perlengkapan makan yang nyaris tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, sejarah mencatat bahwa kebiasaan sederhana ini pernah dianggap sebagai pelanggaran norma agama dan sosial. (*)

Editor: Pratiwi

RELATED NEWS