Sendi Lutut Mulai Protes Setelah Usia 45 Tahun

Pratiwi - Senin, 16 Februari 2026 14:36 WIB
null

(sijori.id) - “Aku adalah sendi lututmu, usiaku sudah 45 tahun.” Begitulah gambaran sederhana tentang kondisi lutut yang mulai mengalami penurunan fungsi seiring bertambahnya usia. Banyak orang baru menyadari perubahan itu ketika rasa nyeri muncul semakin sering, terutama saat bangun tidur atau setelah beraktivitas.

Secara alami, sendi mengandung banyak cairan yang berfungsi sebagai pelumas dan bantalan. Namun seiring bertambahnya usia, kadar cairan tersebut berangsur berkurang. Ketika pelumas menipis, bantalan tidak lagi bekerja maksimal dan gesekan antar tulang mulai terasa, memunculkan rasa nyeri pada lutut.

Pola makan juga kerap disebut berperan. Konsumsi makanan tinggi gula, gorengan, serta minyak olahan dikaitkan dengan meningkatnya peradangan dalam tubuh. Kondisi ini dapat membuat sendi terasa bengkak, kaku, dan lebih mudah sakit setelah makan tertentu.

Selain itu, proses penuaan membuat kadar kolagen perlahan menurun. Kolagen merupakan komponen penting yang menjaga kekuatan dan elastisitas sendi. Berkurangnya kolagen membuat kemampuan tubuh untuk pulih tidak secepat saat usia muda.

Di sisi lain, sejumlah nutrisi dianggap membantu menjaga kesehatan sendi. Omega-3 dikenal memiliki sifat anti-inflamasi yang dapat mendukung pengurangan peradangan. Asupan air yang cukup juga penting karena sendi memerlukan cairan untuk mempertahankan fungsi pelumas alaminya.

Rempah seperti kunyit yang dikombinasikan dengan lada hitam juga sering disebut dalam berbagai pembahasan kesehatan karena kandungan kurkumin di dalamnya. Bahan alami ini dipercaya membantu meredakan peradangan ringan dan membuat sendi terasa lebih nyaman.

Intinya, menjaga sendi tetap sehat bukan hanya soal usia, tetapi juga kebiasaan sehari-hari. Pola makan seimbang, hidrasi cukup, serta perhatian pada asupan nutrisi dapat membantu mengurangi keluhan nyeri dan menjaga lutut tetap kuat saat beraktivitas. (*)

RELATED NEWS