Tarif Feri Batam–Singapura Naik Akibat Lonjakan Harga BBM
SINGAPURA (sijori) – Sejumlah operator feri yang melayani rute Singapura–Batam mulai memberlakukan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) bagi penumpang. Kebijakan ini diambil menyusul lonjakan harga energi global yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Operator feri cepat seperti Horizon Fast Ferry, Majestic Fast Ferry, dan Batam Fast Ferry mengumumkan penumpang yang berangkat dari Singapura menuju Batam dikenakan tambahan biaya bahan bakar sebesar S$6 atau sekitar US$4,70 per tiket mulai Kamis, 12 Maret.
Dalam pemberitahuan resmi di situsnya, Horizon Fast Ferry menjelaskan kebijakan tersebut diperlukan untuk mengimbangi peningkatan biaya operasional.
“Langkah ini diperlukan untuk menutup kenaikan biaya operasional sekaligus memastikan layanan tetap aman, andal, dan efisien,” tulis perusahaan tersebut.
Operator juga menyatakan akan terus memantau perkembangan harga bahan bakar global. Besaran biaya tambahan dapat disesuaikan apabila kondisi pasar energi berubah.
Biaya tambahan itu berlaku untuk seluruh tiket perjalanan, termasuk yang telah dibeli sebelum kebijakan diberlakukan. Penumpang diminta membayar surcharge tersebut di loket tiket masing-masing operator sebelum keberangkatan.
Selain rute Batam, Batam Fast Ferry juga memberlakukan tambahan biaya sebesar S$12 untuk perjalanan menuju kawasan wisata Desaru Coast di Malaysia serta S$6 untuk rute Pengelih.
Dampak Geopolitik pada Harga Energi
Kenaikan biaya transportasi laut ini tidak terlepas dari gejolak harga energi global setelah pecahnya konflik antara Iran dan Israel yang turut melibatkan United States dalam dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah.
Konflik tersebut memicu gangguan di jalur pelayaran strategis Strait of Hormuz, salah satu rute distribusi energi paling penting di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global setiap hari melewati selat tersebut.
Ketegangan keamanan di wilayah itu menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Harga minyak mentah pun langsung melonjak di pasar internasional. Data perdagangan energi menunjukkan harga minyak Brent sempat naik sekitar 9,3 persen hingga menembus US$100,50 per barel, sementara West Texas Intermediate naik 8,8 persen ke level sekitar US$94,92 per barel.
Kenaikan harga energi juga berdampak pada pasokan gas alam cair (LNG) di Asia. Hampir sepertiga impor LNG kawasan Asia melewati Selat Hormuz sehingga potensi gangguan logistik menjadi perhatian negara-negara pengguna energi.
Respons Pemerintah Singapura
Menteri yang membidangi energi di Singapore, Tan See Leng, menyatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
Menurutnya, penutupan jalur pelayaran utama seperti Selat Hormuz berpotensi meningkatkan harga bahan bakar global dalam jangka pendek.
“Dengan lingkungan global yang semakin tidak pasti, gangguan pasokan energi dan fluktuasi harga kemungkinan akan lebih sering terjadi,” tulis Tan See Leng dalam pernyataannya.
Pemerintah Singapura, lanjutnya, telah melakukan diversifikasi sumber impor energi, termasuk pasokan LNG, serta menyiapkan cadangan energi strategis guna menjaga ketahanan energi nasional.
Pemerintah juga menyatakan siap memberikan dukungan kepada rumah tangga maupun pelaku usaha jika lonjakan harga energi berdampak pada biaya hidup dan operasional bisnis.
Kebijakan surcharge oleh operator feri ini menjadi salah satu contoh dampak langsung fluktuasi harga energi global terhadap sektor transportasi regional, khususnya pada jalur laut yang menghubungkan Singapura dengan Batam—salah satu rute mobilitas penumpang paling sibuk di kawasan Kepulauan Riau.
