Tidur Dekat Ponsel, Benarkah Otak Terancam?

Pratiwi - Senin, 16 Februari 2026 09:16 WIB
null

(sijori.id) - Kebiasaan menaruh ponsel di dekat kepala saat tidur sering menimbulkan kekhawatiran. Berbagai narasi di media sosial menyebut radiasi ponsel dapat “memasak otak”, merusak fungsi kognitif, hingga memicu gangguan saraf. Namun, bagaimana fakta ilmiahnya?

Ponsel memang memancarkan gelombang radiofrekuensi, bagian dari radiasi non-ionisasi. Organisasi Kesehatan Dunia menyebut pengguna ponsel menerima paparan lebih tinggi dibanding lingkungan sekitar karena perangkat digunakan dekat kepala. Meski begitu, tingkat energi yang diserap masih berada di bawah batas keamanan internasional dan belum terbukti menimbulkan dampak kesehatan yang konsisten.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) juga menyatakan, hingga kini belum ada bukti ilmiah kuat yang mengaitkan paparan radiasi ponsel dengan masalah kesehatan serius. Berbagai studi epidemiologi jangka panjang belum menunjukkan pola konsisten, termasuk terhadap risiko gangguan otak.

Meski demikian, bukan berarti kebiasaan tidur dengan ponsel sepenuhnya tanpa efek. Faktor yang lebih jelas terbukti mengganggu tidur justru berasal dari cahaya layar, terutama spektrum biru. Paparan cahaya biru pada malam hari diketahui dapat menekan produksi hormon melatonin, hormon yang berperan penting dalam mengatur siklus tidur. Dampaknya, seseorang bisa lebih sulit mengantuk atau kualitas tidur menurun.

Sejumlah ahli juga mengingatkan aspek perilaku: notifikasi, kebiasaan menggulir layar sebelum tidur, dan paparan konten digital dapat membuat otak tetap aktif ketika tubuh seharusnya beristirahat. Kondisi ini lebih berkontribusi terhadap rasa lelah saat bangun dibanding dugaan pemanasan otak akibat radiasi.

Dalam praktik sehari-hari, pendekatan paling aman adalah langkah sederhana. Menjauhkan ponsel dari kepala, mengaktifkan mode malam, atau menghentikan penggunaan layar sebelum tidur dapat membantu menjaga kualitas istirahat. Jika ingin lebih tenang, ponsel bisa diletakkan di meja samping atau sedikit jauh dari tempat tidur.

Kesimpulannya, klaim bahwa otak “dimasak” ponsel saat tidur tidak didukung bukti ilmiah kuat. Namun, kebiasaan menggunakan ponsel larut malam tetap berisiko mengganggu tidur—bukan karena radiasinya, melainkan karena cahaya dan pola penggunaan yang kurang sehat. (*)

Editor: Pratiwi

RELATED NEWS