Transformasi Bugis Street, Singapura
SINGAPURA (BP) — Kawasan belanja ikonik Bugis Street kini tengah mengalami fase transisi besar. Lantai dua yang sebelumnya ramai oleh toko pakaian dan aksesori murah kini tampak lengang, dengan sebagian besar unit usaha tutup.
Saat dikunjungi pada 19 April, hanya sekitar 20 dari total 100 toko di lantai dua yang masih beroperasi. Menariknya, toko-toko yang bertahan justru berada jauh dari akses utama seperti eskalator dan tangga, sehingga arus pengunjung cenderung terbatas.
Berbeda dengan kondisi tersebut, aktivitas bisnis di lantai satu dan tiga tetap berjalan normal. Kedua lantai ini masih dipenuhi toko pakaian, kuliner, dan salon kecantikan yang terus menarik wisatawan maupun warga lokal.
Restrukturisasi Sewa dan Strategi Baru
Pihak pengelola mengonfirmasi bahwa mayoritas masa sewa tenant di lantai dua berakhir pada 31 Maret. Area tersebut kini akan dikonsolidasikan untuk menghadirkan konsep baru yang lebih relevan dengan preferensi generasi muda.
“Ini menjadi kesempatan untuk menyegarkan dan merevitalisasi ruang menjadi destinasi yang lebih sosial dan berorientasi komunitas,” ujar juru bicara Bugis Street.
Konsep baru tersebut akan mengedepankan pengalaman (experiential retail) serta memberi ruang bagi pelaku usaha independen dan kreator lokal.
Sebagai informasi, Bugis Street dikelola melalui skema master lease dari Singapore Land Authority, yang mengharuskan evaluasi dan pembaruan kontrak secara massal setiap tiga tahun.
Meski terjadi penutupan besar-besaran di lantai dua, tingkat retensi penyewa secara keseluruhan diklaim tetap sehat, mencapai lebih dari 80 persen dalam siklus pembaruan terbaru.
Tekanan Bisnis dan Perubahan Perilaku Konsumen
Sejumlah pedagang mengaku telah lama mengalami penurunan penjualan. Harga produk yang terus ditekan pun tidak mampu menutupi biaya operasional.
“Saya dulu menjual pakaian seharga S$30, sekarang diturunkan jadi S$10 pun sulit laku. Jual 20 potong sehari saja belum cukup untuk bayar sewa,” ungkap salah satu pemilik toko.
Meski demikian, sebagian pengunjung menilai perubahan ini tidak terlalu berdampak. Alternatif lokasi belanja murah masih tersedia, seperti Lucky Plaza.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran perilaku konsumen. Direktur Singapore Institute of Retail Studies di Nanyang Polytechnic menjelaskan bahwa belanja kini tidak lagi semata soal harga atau kenyamanan.
“Jika hanya mengejar harga murah, konsumen cenderung beralih ke platform online. Toko fisik harus menawarkan pengalaman tambahan agar tetap relevan,” ujarnya.
Sejarah dan Posisi Strategis
Bugis Street memiliki sejarah panjang sebagai destinasi hiburan malam sebelum direvitalisasi pada akhir 1980-an. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi pusat belanja populer yang berseberangan dengan Bugis Junction.
Dengan luas sekitar 200.000 kaki persegi dan lebih dari 600 unit usaha, Bugis Street selama ini dikenal sebagai surga belanja murah bagi wisatawan. Lokasinya yang strategis juga menjadikannya bagian penting dalam ekosistem pariwisata Singapura.
Pada 2020, CapitaLand ditunjuk sebagai operator tunggal untuk pengelolaan terpadu kawasan Bugis Village dan Bugis Street, hasil kerja sama dengan Singapore Tourism Board dan Urban Redevelopment Authority.
Adaptasi atau Tertinggal
Transformasi lantai dua Bugis Street menjadi sinyal bahwa industri ritel fisik tengah beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan zaman. Bukan sekadar penurunan permintaan, melainkan tuntutan untuk berevolusi.
Dengan fokus pada pengalaman, interaksi sosial, dan kreativitas, pengelola berharap kawasan ini tetap relevan dan mampu bersaing di tengah dominasi belanja digital.
Perubahan ini sekaligus menegaskan bahwa masa depan ritel bukan hanya soal transaksi, tetapi juga tentang menciptakan alasan bagi orang untuk datang dan tinggal lebih lama. (*)
