Yogya Giatkan Upaya Melestraikan Bahasa Jawa

Pungki - Kamis, 22 September 2022 10:54 WIB
null

YOGYA (sijori.id) - Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus berupaya dalam melestarikan bahasa Jawa, khususnya bagi generasi milenial. Upaya-upaya ini disampaikan dalam rapat kerja pengembangan, perlindungan dan pemeliharaan bahasa serta sastra daerah, guna menyinkronkan regulasi dan kebijakan program tahun 2023-2027, Selasa 20 September 2022.

Dalam laman resminya, Kepala Balai Bahasa DIY, Dwi Pratiwi, memaparkan bahwa salah satu tugas yang diemban Balai Bahasa DIY ialah menjaga kelangsungan hidup Bahasa Jawa, caranya dengan mewariskan kepada generasi muda secara benar, yaitu melalui program restorasi, refungsionalisasi, dan revitalisasi.


"Kita harus menggelorakan kembali penggunaan bahasa Jawa di berbagai ranah kehidupan sehari-hari, melalui pembiasaan penggunaan bahasa Jawa dengan menyenangkan di dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat," kata Dwi, dikutip Rabu 21 September 2022.

"Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus menjadi ruang kreatif bagi pemuda dalam mempertahankan bahasa Jawa. Kerja sama dan kerja bersama entah, komunitas, dan masyarakat secara umum harus senantiasa ditingkatkan upaya mencapai cita-cita ini," tambahnya.

Salah satu upaya yang dilakukan Balai Bahasa DIY, menurut Dwi, ialah menjadikan para penutur muda di DIY, menjadi penutur yang aktif lagi menjadikan bahasa daerah menjadi menyenangkan alias tidak dengan terpaksa.

Misalnya, dengan mengajak anak mempelajari bahasa Jawa menggunakan media permainan tradisional. Atau, kata Dwi, bisa juga dengan pendekatan teknologi, yakni mengenalkan bahasa Jawa lewat gim.

"Tujuannya menjaga kelangsungan hidup bahasa dan sastra daerah dengan sukacita. Bisa juga mempelajari bahasa Jawa ini di sekolah lewat gamelan, wayang, maupun kethoprak," paparnya.

Dalam rapat tersebut, ketua Dewan Pendidikan DIY, Sutrisna Wibawa, juga mengatakan bahwa bahasa Jawa mengandung sopan santun, nilai-nilai keadaban, sekaligus juga ilmu pengetahuan masa lalu.

"Sebab banyak karya sastra Jawa kuno, didalamnya mengandung nilai pengetahuan. Semisal Serat Centhini, yang memaparkan ilmu kehidupan Jawa mulai dari bagaimana hidup, berumah tangga, bermasyarakat, keadabannya itu dijelaskan secara jelas. Bukan hanya berisi kehidupan, namun juga akhirat karena didalamnya terdapat ajakan melihat asal usul manusia dan tujuan akhirnya mau kemana," terang mantan Rektor UNY ini.


Lebih lanjut ia mengatakan, Dewan Pendidikan saat ini juga tengah merancang pendidikan khas Kejogjaan, yang antara lain bersumber dari bahasa dan sastra Jawa.

"Jadi karya-karya sastra Jawa yang berisi nilai-nilai keadaban itu kami ambil, di samping nilai-nilai yang masih hidup (living culture) di Keraton, Pakualaman, Tamansiswa, Muhammadiyah, Ponpes," paparnya.

"Pendidikan Kejogjaan ini tujuannya untuk menghasilkan Jalma Kang Utomo, menghasilkan anak-anak yang pintar namun juga beradab. Pendidikan Kejogjaan ini nantinya akan mendampingi sekolah dari Paud sampai Perguruan Tinggi," pungkas Sutrisna. (Eff)

Tags Bahasa JawaBagikan

RELATED NEWS