Jumat, 05 Juni 2026 10:12 WIB
Penulis:Pratiwi

(sijori.id) - Seekor burung nuri langka yang selama puluhan tahun menjadi misteri dunia ornitologi kembali ditemukan di Indonesia. Nuri dahi biru atau Blue-fronted Lorikeet berhasil didokumentasikan di habitat alaminya di kawasan pegunungan Pulau Buru, Maluku, setelah lebih dari satu dekade tanpa rekaman baru.
Penemuan tersebut terjadi pada April 2026 dalam sebuah ekspedisi yang dipimpin kelompok pendaki gunung Indonesia. Tim berhasil memotret burung tersebut untuk pertama kalinya dalam 12 tahun sekaligus merekam suara kicauannya untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Burung yang hanya ditemukan di Pulau Buru itu memiliki ciri khas tubuh hijau terang, paruh berwarna oranye, bagian belakang kepala berwarna biru, serta ekor meruncing yang memudahkan identifikasi di alam liar.
Selama hampir satu abad, keberadaan spesies ini menjadi teka-teki bagi para peneliti. Burung tersebut pertama kali dideskripsikan berdasarkan tujuh spesimen yang dikumpulkan pada dekade 1920-an. Setelah itu, tidak ada catatan lapangan yang meyakinkan selama hampir 90 tahun hingga akhirnya seekor individu berhasil difoto pada 2014.
Direktur Search for Lost Birds di American Bird Conservancy, John Mittermeier, mengatakan pencarian spesies ini selalu dianggap sebagai misi yang sangat sulit.
"Ketika Anda mencari burung yang hanya terdokumentasi satu kali dalam satu abad terakhir, peluang keberhasilannya terasa sangat kecil," ujarnya.
Tim ekspedisi menduga burung tersebut selama ini bertahan hidup di kawasan pegunungan tinggi yang sulit dijangkau manusia. Dugaan itu akhirnya terbukti setelah para peneliti menjelajahi dataran tinggi di kawasan Gunung Kapalatmada, puncak tertinggi Pulau Buru.
Perjalanan menuju lokasi tidak mudah. Medan dipenuhi tebing batu kapur curam, bongkahan batu tajam, aliran sungai deras, minim sumber air, serta hampir tidak memiliki jalur pendakian yang jelas.
Pengamat burung yang terlibat dalam ekspedisi, James Eaton, mengatakan hanya orang dengan alasan yang sangat kuat yang bersedia menempuh perjalanan berat tersebut.
"Hujan, batu kapur yang tajam, arus sungai yang deras, dan tidak adanya jalur membuat perjalanan ini sangat menantang. Burung inilah alasan kami melakukannya," katanya.
Usaha keras itu terbayar ketika tim berhasil melihat sedikitnya sembilan individu nuri dahi biru selama ekspedisi berlangsung. Momen tersebut menjadi puncak dari bertahun-tahun penelitian dan persiapan.
Penemuan kembali spesies ini menjadi kabar menggembirakan bagi dunia konservasi. Pada 2024, nuri dahi biru masuk dalam daftar "spesies hilang" yang disusun program Search for Lost Birds, kolaborasi global antara American Bird Conservancy, Re, dan BirdLife International.
Saat ini, spesies tersebut masih berstatus Data Deficient atau kekurangan data menurut IUCN. Para peneliti menilai penelitian lanjutan sangat diperlukan untuk mengetahui ukuran populasi, sebaran habitat, serta ancaman yang mungkin dihadapi burung tersebut.
Menurut Mittermeier, penemuan kembali spesies langka ini merupakan langkah awal yang sangat penting dalam upaya perlindungan jangka panjang.
"Temuan seperti ini adalah langkah pertama untuk memastikan spesies tersebut dapat dilindungi," ujarnya.
Keberhasilan menemukan kembali nuri dahi biru menjadi pengingat bahwa Indonesia masih menyimpan banyak kekayaan hayati yang belum sepenuhnya terungkap. Di tengah berbagai tantangan lingkungan, penemuan ini membawa harapan baru bagi upaya pelestarian satwa endemik Nusantara yang unik dan tak tergantikan. (*)
Bagikan