Selasa, 07 April 2026 23:07 WIB
Penulis:Pratiwi

(sijori.id) - Kesalahan teknik saat latihan beban masih menjadi penyebab utama cedera otot dan sendi di kalangan pelaku kebugaran. Praktisi olahraga mengingatkan, penggunaan beban tanpa kontrol yang baik justru meningkatkan risiko robekan otot hingga cedera serius.
Di sejumlah pusat kebugaran, fenomena ini kerap ditemukan pada latihan seperti pull-up, deadlift, hingga bicep curl. Banyak peserta latihan mengandalkan ayunan tubuh atau beban berlebih, alih-alih teknik yang benar. Akibatnya, otot tidak bekerja optimal dan tekanan berlebih justru berpindah ke ligamen serta sendi.
Salah satu kesalahan umum adalah kurangnya aktivasi otot punggung (latissimus dorsi) saat latihan tarik. Kondisi ini membuat otot lengan dan genggaman tangan bekerja lebih keras, sehingga cepat lelah dan berpotensi cedera.
Grip yang lemah sering ‘mencuri’ beban dari otot utama. Dalam jangka panjang, ini bisa menghambat perkembangan otot sekaligus meningkatkan risiko cedera.
Selain itu, rentang gerak (range of motion) yang berlebihan juga menjadi faktor risiko. Pada beberapa gerakan, sudut sendi yang melampaui batas aman—misalnya lebih dari 90 derajat pada posisi tertentu—dapat menyebabkan peregangan ligamen secara berlebihan.
Dari sisi biomekanika, gerakan yang tidak terkontrol, seperti menarik secara tiba-tiba atau menggunakan momentum, dapat meningkatkan gaya tarik pada tendon. Dalam kasus ekstrem, kondisi ini berpotensi menyebabkan robekan tendon, termasuk cedera pada otot bisep yang dikenal dengan istilah “bicep tendon rupture”.
Data dari sejumlah studi kebugaran menunjukkan, cedera akibat latihan beban umumnya terjadi karena kombinasi teknik yang buruk, beban berlebih, dan kurangnya pengawasan profesional. Oleh karena itu, penggunaan alat bantu seperti lifting straps atau kapur (chalk) dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan cengkeraman, namun tetap harus diiringi dengan teknik yang tepat.
Para ahli merekomendasikan latihan dengan repetisi terkontrol, tanpa ayunan, serta fokus pada kontraksi otot utama. Prinsip ini dinilai lebih efektif dalam membangun kekuatan sekaligus meminimalkan risiko cedera.
Pendekatan latihan yang benar tidak hanya meningkatkan hasil, tetapi juga menjaga kesehatan jangka panjang. Dengan memahami anatomi tubuh dan batas kemampuannya, pelaku olahraga dapat menghindari cedera yang berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari. (*)
Bagikan