Hebatnya Burung Kolibri

Jumat, 02 Januari 2026 08:53 WIB

Penulis:Pratiwi

Editor:Pratiwi

kolibri.jpg

(sijori.id) - Kita mengenalnya sebagai burung kolibri, orang bule sebut hummingbird. Ini burung yang menakjubkan.

Burung mungil ini seolah menabrak pakem aerodinamika. Kolibri adalah satu-satunya burung di dunia yang benar-benar bisa melayang di udara, terbang mundur, bahkan terbalik. Rahasianya ada pada sayap. Bukan sekadar mengepak, sayap kolibri berputar dan menghantam udara hingga 80 kali per detik. Dengungan yang terdengar bukan mitos—itu suara sayap yang bekerja di batas ekstrem fisika.

Berbeda dengan burung lain yang hanya mendapat daya angkat saat kepakan ke bawah, kolibri “panen” lift di dua arah. Sendi bahunya fleksibel seperti universal joint, memungkinkan sayap berputar penuh. Hasilnya, gaya angkat tercipta saat kepakan turun maupun naik. Dua mesin biologis dalam satu tubuh.

Harga yang harus dibayar mahal.

Tubuh kolibri adalah tungku berjalan. Detak jantungnya mencapai 1.200 kali per menit—sekali lagi, bukan 120, melainkan 1.200. Adapun jantung manusia berdetak sekitar 70 kali per menit, jantung kolibri berdetak 20 kali setiap detik. Ia memiliki metabolisme tercepat di antara seluruh hewan berdarah panas di Bumi, tanpa tanding. 

Konsekuensinya, kolibri selalu berada di ambang kelaparan. Setiap hari ia harus mengonsumsi nektar setara berat tubuhnya sendiri. Berhenti makan beberapa jam saja, nyawanya terancam.

Lalu bagaimana bertahan di malam hari? Kolibri punya mode darurat bernama torpor. Ini semacam hibernasi mini. Metabolisme ditekan hingga 95 persen, detak jantung melambat drastis, cukup untuk bertahan sampai pagi.

Soal kecepatan, kolibri juga bukan kaleng-kaleng. Terbang jelajahnya bisa melampaui 48 km/jam. Saat ritual kawin, pejantan menukik dari ketinggian sekitar 30 meter, melesat lebih dari 80 km/jam, lalu berhenti mendadak dan melayang tepat di depan betina.

Jadi, ketika Anda melihat kolibri diam melayang di depan bunga, ia bukan sedang santai. Itu mesin performa tinggi dalam kondisi krisis terkendali: sayap mengabur, jantung meraung, ekor bekerja keras sebagai kemudi. (*)