Ketika Raja Payung Hong Kong Tutup Usaha

Senin, 29 Desember 2025 12:43 WIB

Penulis:Pratiwi

raja-payung.jpg
Yau Yiu-wai (73), perajin dan tukang reparasi payung, berpose di kawasan Sham Shui Po, Hong Kong, 26 Desember 2025. — AFP

HONG KONG (sijori.id) - Ratusan warga memadati sebuah toko sempit di distrik tua Hong Kong untuk mengucapkan salam perpisahan kepada sosok yang dijuluki “raja payung” kota itu. Yau Yiu-wai, 73, akhirnya memutuskan pensiun setelah puluhan tahun memperbaiki payung di toko keluarga yang telah bertahan lebih dari satu abad.

Toko bernama Sun Rise Company tersebut didirikan pada 1842, semasa Dinasti Qing, oleh keluarga Yau di Guangzhou, China selatan. Setelah melewati berbagai gejolak zaman, termasuk masa perang, usaha itu kemudian berpindah dan menetap di Hong Kong, tepatnya di kawasan Sham Shui Po yang ramai oleh pedagang daging dan sayuran.

Awal bulan ini, Yau mengumumkan bahwa bisnis keluarga yang telah diwariskan lintas lima generasi itu akan resmi tutup pada akhir tahun. Perubahan perilaku konsumen yang beralih ke belanja daring, ditambah faktor usia dan kondisi kesehatan, membuatnya tak lagi mampu bertahan.

“Kami menjaga reputasi keluarga, dan warisan ini sampai ke tangan saya. Sangat menyakitkan harus mengakhirinya. Saya minta maaf kepada para leluhur,” ujar Yau kepada AFP, Jumat.

Kabar penutupan toko itu cepat menyebar di media sosial. Banyak warganet menyebutnya sebagai hilangnya salah satu usaha komunitas paling berharga di Hong Kong. Sejumlah pelanggan pun datang membawa payung untuk terakhir kalinya, sekadar diperbaiki atau dikenang.

“Dia benar-benar peduli menjual payung yang bagus dan praktis,” kata Niki Lum, mahasiswa berusia 20 tahun. “Kelihatan sekali hatinya ada di toko ini.”

Warga lain, Peter Tam, 60, menilai tutupnya toko-toko klasik semacam ini menandai berakhirnya sebuah era. “Ini sangat disayangkan. Semua ini bagian dari sejarah. Bahkan kita sendiri juga sedang menjadi sejarah,” ujarnya.

Berbeda dengan banyak peritel yang mendorong pembelian payung baru, Yau memilih memperbaiki agar tahan lama. Menurutnya, itu bagian dari tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Ini untuk perlindungan lingkungan,” katanya.

Yau mengungkapkan, kini hanya tersisa kurang dari lima perajin payung sepertinya di Hong Kong. Meski berat, ia mengaku tak punya pilihan selain menutup layanan yang telah menjadi kebanggaannya.

“Saya sudah tua. Maafkan saya, saya benar-benar tak bisa melanjutkan,” kata Yau, yang sempat mengalami stroke beberapa tahun lalu.

Ia pun meninggalkan pesan sederhana, “Yang paling penting, tetaplah cerdas dan belajarlah hidup ramah lingkungan.” (*)