Kamis, 07 Mei 2026 10:26 WIB
Penulis:Pratiwi

(sijori.id) - Di sebuah kota industri di pesisir tenggara China pada akhir 1980-an, seorang remaja putus sekolah membawa ratusan pasang sepatu ke Beijing untuk dijual. Dari langkah kecil itulah lahir Anta Sports, perusahaan sportswear asal China yang kini mulai menantang dominasi Nike dan Adidas di pasar global.
Pendiri Anta, Ding Shizhong, saat itu baru berusia 17 tahun ketika mencoba menjual 600 pasang sepatu buatan pabrik kerabatnya. Keuntungan dari penjualan tersebut kemudian digunakan untuk membangun bengkel produksi kecil yang membuat alas kaki bagi perusahaan lain.
Perjalanan itu berlangsung di tengah era reformasi ekonomi China ketika pemerintah mulai membuka ruang bagi sektor swasta dan manufaktur ekspor. Dalam beberapa dekade, Anta berkembang dari produsen sepatu murah menjadi salah satu perusahaan olahraga terbesar di Asia.
Kini, Anta tidak hanya memiliki lebih dari 10.000 toko di China, tetapi juga mengendalikan sejumlah merek internasional melalui kepemilikan di Amer Sports, perusahaan induk yang menaungi brand seperti Arc'teryx, Salomon, dan Wilson Sporting Goods. Tahun ini, Anta juga membeli sekitar 29 persen saham Puma.
Ekspansi global Anta semakin terlihat setelah perusahaan membuka toko flagship pertamanya di Amerika Serikat, tepatnya di kawasan Beverly Hills, Los Angeles, pada Februari 2026.
Langkah tersebut menandai perubahan besar dalam industri manufaktur China. Perusahaan-perusahaan yang sebelumnya hanya menjadi pemasok bagi merek Barat kini mulai membangun identitas global mereka sendiri.
Lahir dari “Kota Sepatu” China
Anta didirikan pada 1991 di Jinjiang, wilayah yang dikenal sebagai salah satu pusat produksi sepatu terbesar di dunia.
Kota itu berkembang pesat ketika pemerintah China mendorong pembentukan klaster industri manufaktur di berbagai provinsi. Jinjiang kemudian menjadi rumah bagi ribuan pabrik, pemasok sol, kain, tali sepatu, hingga perusahaan logistik yang mendukung produksi massal alas kaki.
Pada 2005, Provinsi Fujian disebut menyumbang hampir seperlima produksi sepatu dunia. Banyak merek global memindahkan produksinya ke wilayah tersebut demi memangkas biaya manufaktur.
Menurut Associate Professor Fei Qin dari University of Bath, perusahaan-perusahaan China tidak hanya belajar memproduksi barang murah, tetapi juga memahami bagaimana menghasilkan produk lebih cepat, efisien, dan konsisten.
“China belajar bukan hanya membuat lebih banyak barang, tetapi juga bagaimana memproduksi dengan kualitas lebih baik dan lebih cepat,” ujarnya.
Di lingkungan industri seperti itulah Anta berkembang. Awalnya perusahaan hanya memproduksi sepatu untuk merek lain sebelum perlahan membangun jaringan distribusi dan identitas merek sendiri di pasar domestik.
Strategi Akuisisi dan Multi-Brand
Anta mulai memperluas pengaruhnya setelah melantai di Bursa Hong Kong pada 2007 dan meraih pendanaan sekitar HKD3,5 miliar, yang saat itu menjadi rekor bagi perusahaan olahraga China.
Salah satu strategi penting Anta adalah akuisisi merek asing. Pada 2009, perusahaan membeli hak pengelolaan Fila di China dan berhasil mengubahnya menjadi salah satu sumber pendapatan utama.
Langkah lebih besar dilakukan pada 2019 ketika Anta mengambil alih Amer Sports. Akuisisi itu memberi akses terhadap merek premium global sekaligus membuka jalur distribusi baru di pasar Barat.
Analis pemasaran olahraga dari IMG, Rufio Zhu, menilai strategi multi-brand membuat Anta tidak perlu memaksakan citra “produk China” secara langsung kepada konsumen Barat.
“Lewat merek internasional, Anta bisa masuk ke pasar global tanpa menghadapi resistensi besar terhadap label made in China,” katanya.
Tantangan Hadapi Nike dan Adidas
Meski berkembang cepat, Anta masih menghadapi tantangan besar untuk menyaingi dominasi Nike dan Adidas di pasar global, terutama di Amerika Utara dan Eropa.
Selain persoalan persepsi kualitas produk China, situasi geopolitik antara Beijing dan Barat juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi ekspansi perusahaan.
Di sisi lain, kondisi pasar justru mulai memberi ruang bagi pemain baru. Nike dan Adidas tengah menghadapi tekanan akibat tarif impor Amerika Serikat terhadap produk Asia, perlambatan konsumsi di China, serta perubahan strategi penjualan pasca-pandemi.
Anta mencoba memanfaatkan momentum tersebut sambil memperkuat citra mereknya melalui sponsor atlet internasional seperti Klay Thompson dan Kyrie Irving.
Perusahaan juga menggandeng Eileen Gu, atlet ski gaya bebas yang menjadi ikon olahraga musim dingin China.
Meski belum sepopuler Nike atau Adidas secara global, perjalanan Anta menunjukkan bagaimana perusahaan China mulai bergerak naik dari sekadar “pabrik dunia” menjadi pemilik merek internasional.
“Kami realistis menghadapi persaingan, tetapi industri sportswear global bukan permainan zero-sum,” ujar juru bicara Anta seperti dikuitip dari BBC.
“Kami percaya para pecinta olahraga akan mengenali inovasi dan nilai merek Anta.” (*)
Bagikan