Kuda Laut Langka Bertahan di Padang Lamun Johor

Selasa, 30 Desember 2025 17:15 WIB

Penulis:Pratiwi

kuda-laut.jpg
Kuda laut | SIN CHEW DAILY/ASIA NEWS NETWORK

JOHOR (sijori.id) – Di perairan Selat Johor, tepat di depan kawasan Forest City dan tak jauh dari Second Link Malaysia–Singapura, hidup koloni kuda laut yang kian langka. Habitatnya berupa padang lamun seluas sekitar 1,8 kilometer yang hanya tampak saat air laut surut.

Pada momen surut terendah, dasar laut terbuka. Lumpur tebal bisa dilalui dengan berjalan perlahan untuk mengamati kuda laut yang berpegangan pada lamun, mengikuti arus air. Dalam beberapa bulan terakhir, penampakan kuda laut merah yang tergolong sangat jarang juga tercatat di kawasan ini.

Ketua Save Our Seahorses Malaysia (SOS), Adam Lim, mengatakan organisasi nonpemerintah tersebut dibentuk oleh sekelompok pemerhati lingkungan dan menjadi satu-satunya tim yang secara konsisten melakukan riset jangka panjang tentang kuda laut selama dua dekade terakhir.

Setiap bulan, pada hari-hari dengan pasang terendah, tim turun langsung ke padang lamun. Mereka mencatat panjang tubuh, kondisi kesehatan, serta menandai individu baru dengan menyuntikkan elastomer biofluoresen yang terlihat dan bersifat permanen di bawah kulit. Metode ini memungkinkan SOS membangun basis data populasi yang akurat.

Upaya SOS mendapat pengakuan internasional. Organisasi ini tergabung dalam IUCN Species Survival Commission (SSC) Seahorse, Pipefish, and Seadragon Specialist Group. Menurut Lim, perubahan populasi kuda laut dapat menjadi indikator biologis kondisi lingkungan, mulai dari kualitas habitat, tekanan perikanan, hingga mutu air.

“Kuda laut sangat setia pada habitatnya. Jika lingkungan rusak, peluang mereka bertahan hidup sangat kecil,” ujarnya. Secara global, ancaman terbesar bagi kuda laut adalah kerusakan habitat akibat pembangunan pesisir yang berlebihan dan tak terkendali.

Malaysia, lanjut Lim, kini menjadi salah satu yang terdepan di Asia dalam riset lapangan dan partisipasi warga untuk konservasi kuda laut. Ekspedisi rutin SOS pun dibuka untuk publik. Relawan membantu pencarian, sekaligus mendapat pengalaman edukatif. Menariknya, siapa pun yang menemukan kuda laut berhak memberi nama pada individu tersebut.

Pemimpin proyek SOS, Wong Jieyi, menjelaskan jadwal penelitian sepenuhnya mengikuti tabel pasang surut. Pada paruh pertama tahun, ekspedisi biasanya dilakukan siang hari. Sedangkan paruh kedua, lebih sering malam hari. Waktu pencarian sekitar 90 menit. Begitu air mulai naik, seluruh peserta harus segera kembali ke perahu.

Padang lamun ini sebagian besar waktu terendam. Saat surut, lumpur yang berat membuat pergerakan sulit tanpa perlengkapan memadai. Satu langkah keliru bisa membuat seseorang terjatuh ke air.

Dalam salah satu ekspedisi yang diikuti reporter Sin Chew Daily, kuda laut pertama ditemukan kurang dari 10 menit. Karena dikenal sebagai ikan paling lambat berenang di dunia, kuda laut dapat diamati dengan aman. Peneliti memeriksa tanda fluoresen menggunakan lampu ultraviolet. Jika belum bertanda, individu tersebut dicatat sebagai temuan baru, diukur, diperiksa kesehatannya, dipetakan dengan GPS, lalu diberi penanda sebelum dilepas kembali.

Puncak ekspedisi terjadi saat ditemukan kuda laut jantan yang sedang bunting, dengan perut tampak membulat. Temuan itu memicu antusiasme peserta.

Wong menegaskan, meski berukuran kecil, kuda laut adalah predator puncak di relung ekosistemnya. Perannya penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem padang lamun dan terumbu karang. Jika kuda laut hilang, populasi udang dan plankton bisa melonjak dan merusak lamun.

Selama bertahun-tahun, SOS juga menanamkan kesadaran lingkungan melalui edukasi lapangan. “Ada peserta yang dulu datang sendiri, sekarang kembali bersama pasangan dan anak-anak mereka. Itu hasil yang paling kami hargai,” kata Lim.  (*)