Nissan Pangkas Waktu Pengembangan Mobil, Skyline Baru Meluncur Lebih Cepat

Jumat, 19 Juni 2026 14:08 WIB

Penulis:Pratiwi

nissan-skyline.jpg

TOKYO (sijori.id) – Nissan Motor Co. mempercepat proses pengembangan kendaraan baru dengan mengadopsi metode kerja yang banyak diterapkan produsen otomotif China. Strategi tersebut memungkinkan Nissan memangkas waktu pengembangan kendaraan hampir separuh dibandingkan sebelumnya.

CEO Nissan, Ivan Espinosa, mengatakan perusahaan menargetkan seluruh model baru dapat dikembangkan dalam waktu sekitar 30 bulan. Salah satu contoh pertama dari strategi tersebut adalah Skyline generasi terbaru yang dijadwalkan meluncur pada musim dingin tahun ini setelah hanya membutuhkan 26 bulan proses pengembangan.

Angka tersebut jauh lebih cepat dibandingkan generasi Skyline saat ini yang memerlukan sekitar 55 bulan sejak tahap perencanaan hingga siap dipasarkan.

Meski nama Skyline tidak digunakan di Amerika Serikat, model yang sama nantinya akan dipasarkan dengan merek Infiniti.

 

Belajar dari Produsen Otomotif China

Menurut laporan Nikkei, Nissan memperoleh banyak pelajaran dari kerja sama dengan mitra lokalnya di China, Dongfeng.

Salah satu contoh keberhasilan pendekatan tersebut terlihat pada pengembangan sedan listrik Dongfeng Nissan N7 yang hanya membutuhkan waktu sekitar dua tahun, atau setengah dari durasi pengembangan kendaraan Nissan pada umumnya.

Espinosa menjelaskan percepatan tersebut didukung pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), teknologi digital, serta proses simulasi yang lebih canggih pada tahap desain, pengujian, dan manufaktur.

“Sebagian besar perubahan ini didukung kemampuan AI dan penggunaan alat digital baru dalam proses desain, pengujian, hingga produksi,” ujar Espinosa.

Ia menilai industri otomotif China kini menjadi tolok ukur baru dalam hal teknologi, efisiensi biaya, dan kecepatan pengembangan produk.

“China saat ini menetapkan standar masa depan industri otomotif dari sisi teknologi, daya saing biaya, dan waktu pengembangan,” katanya.

 

Strategi Bangkit dari Penurunan Penjualan

Langkah percepatan pengembangan kendaraan dilakukan Nissan di tengah tekanan bisnis yang masih berlangsung.

Pada tahun fiskal terakhir, penjualan global Nissan turun 6 persen menjadi 3,15 juta unit. Di pasar domestik Jepang, penjualan bahkan merosot 13 persen.

Espinosa menilai salah satu penyebab penurunan tersebut adalah minimnya produk baru yang mampu menarik perhatian konsumen serta tantangan reputasi yang dihadapi perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelumnya, Nissan juga sempat menjadi sorotan setelah muncul laporan mengenai rencana merger dengan Honda dan Mitsubishi. Namun pembicaraan tersebut akhirnya tidak berlanjut.

 

Skyline dan GT-R Jadi Andalan

Untuk membalikkan keadaan, Nissan menyiapkan strategi peluncuran produk secara agresif.

Dalam kurun waktu sekitar satu tahun ke depan, perusahaan berencana menghadirkan tujuh model baru, termasuk Skyline generasi terbaru, SUV dan pikap baru, hingga generasi penerus mobil sport legendaris GT-R.

Nissan berharap kombinasi antara kecepatan pengembangan ala China dan karakter khas mobil Jepang dapat menjadi formula untuk mengembalikan daya saing merek tersebut di pasar global.

Jika strategi ini berhasil, Skyline dan GT-R berpotensi menjadi simbol kebangkitan Nissan sekaligus memperkuat posisinya di tengah persaingan industri otomotif yang semakin ketat dan bergerak cepat menuju era elektrifikasi. (*)