Sabtu, 28 Maret 2026 13:11 WIB
Penulis:Pratiwi

SINGAPURA (sijori.id) — Singapore Manufacturing Federation (SMF) mendorong lebih banyak perusahaan sektor alat kesehatan dan elektronik untuk memperluas investasi ke kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK), Indonesia.
Dorongan ini sejalan dengan upaya pemerintah Indonesia yang terus mengembangkan kawasan industri baru serta meningkatkan konektivitas pelabuhan antara Indonesia dan Singapura.
Selama ini, Singapore merupakan salah satu investor asing terbesar di Provinsi Kepulauan Riau, termasuk di kawasan BBK. Bahkan sejak 2023, Singapura menjadi investor asing terbesar di Batam. Demikian seperti dilansir oleh ChannelNewsAsia.
Pada paruh pertama tahun lalu, nilai investasi Singapura di Batam tercatat mencapai sekitar 617,3 juta dolar Singapura atau setara 69 persen dari total penanaman modal asing di wilayah tersebut.
Dalam seminar investasi yang digelar pada Selasa (24/3/2026), Wakil Presiden SMF Melvin Tan menekankan pentingnya perusahaan mempertimbangkan berbagai faktor sebelum melakukan ekspansi ke luar negeri.
Menurut dia, salah satu aspek krusial adalah keandalan infrastruktur energi yang masih bervariasi di tiap kawasan industri.
“Perusahaan perlu memahami batasan dan kebutuhan energi mereka sebelum memutuskan lokasi investasi,” ujar Melvin.
Kedekatan Geografis Jadi Keunggulan
Kawasan BBK berjarak sekitar 40 hingga 90 menit perjalanan feri dari Singapura. Wilayah ini merupakan bagian dari Singapore-Johor-Riau Growth Triangle, kerja sama ekonomi yang diinisiasi pada 1989 oleh Goh Chok Tong.
Konsep ini menggabungkan keunggulan teknologi, manajemen, dan infrastruktur Singapura dengan ketersediaan lahan, tenaga kerja, dan sumber daya alam di Johor serta Kepulauan Riau.
Seiring perkembangan, kawasan BBK kini menjadi rumah bagi sedikitnya lima kawasan ekonomi khusus (KEK) yang berfokus pada industri strategis seperti kesehatan, elektronik, hingga aviasi.
Berbagai insentif ditawarkan di kawasan ini, mulai dari keringanan pajak, kemudahan perizinan, hingga penyediaan infrastruktur khusus guna menarik investor asing.
Strategi “Twinning” dan Efisiensi Biaya
Kemitraan Singapura-BBK juga mengadopsi strategi “twinning”, di mana kantor pusat serta riset dan pengembangan tetap berada di Singapura, sementara aktivitas manufaktur skala besar ditempatkan di BBK.
Pendekatan ini dinilai efektif karena biaya lahan, tenaga kerja, dan utilitas di BBK jauh lebih kompetitif.
Salah satu perusahaan yang memanfaatkan peluang ini adalah Redux. Perusahaan daur ulang tersebut berencana meningkatkan kapasitas hingga lima kali lipat dengan memanfaatkan kawasan industri di BBK.
Direktur pengembangan bisnis Redux, Jeff Seah, menyebutkan bahwa kebutuhan ruang industri yang luas menjadi alasan utama ekspansi ke wilayah tersebut.
“BBK menawarkan lahan yang lebih luas dengan biaya lebih rendah, serta dukungan kuat untuk pertumbuhan industri. Selain itu, lokasinya yang dekat dengan Singapura memudahkan konektivitas,” ujarnya.
Peluang dan Tantangan Ekspansi
Untuk mendukung mobilitas investasi, pemerintah Indonesia juga telah memberikan fasilitas bebas visa ke kawasan BBK bagi 13 negara, termasuk warga ASEAN dan penduduk tetap Singapura.
Selain itu, berbagai regulasi baru diterbitkan untuk menyederhanakan proses perizinan dan meningkatkan kemudahan berusaha.
Presiden Association of Small and Medium Enterprises, Ang Yuit, menilai kawasan BBK sebagai opsi strategis bagi perusahaan yang ingin berekspansi tanpa harus jauh dari Singapura.
“Biaya lahan menjadi faktor utama, terutama bagi bisnis yang membutuhkan ruang besar. Namun, perusahaan tetap perlu menilai kesiapan infrastruktur secara menyeluruh,” kata dia.
Dengan kombinasi biaya kompetitif, kedekatan geografis, serta dukungan kebijakan, kawasan BBK dinilai semakin menarik sebagai basis produksi regional sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi kawasan. (*)
Bagikan