Snow City Singapura Tutup Setelah 26 Tahun Beroperasi

Jumat, 02 Oktober 2026 17:39 WIB

Penulis:Pratiwi

snow.jpg

SINGAPURA (sijori.id) - Snow City, pusat wisata salju dalam ruang pertama di Singapura, resmi menutup operasional setelah 26 tahun beroperasi. Tempat wisata tersebut menutup pintunya untuk terakhir kali pada pukul 18.49 waktu setempat, Selasa (30/9).

Penutupan Snow City ditandai dengan suasana haru. Setelah pengunjung meninggalkan lokasi, para staf berkumpul untuk menikmati makan malam hotpot di dalam ruang salju yang selama bertahun-tahun menjadi tempat mereka bekerja.

General Manager Snow City Norazani Shaiddin mengatakan penutupan tersebut menjadi momen emosional bagi dirinya. Ia telah bekerja selama 21 tahun di tempat wisata tersebut dan menjadi staf dengan masa kerja terlama.

“I can say that Snow City is part of me. So, of course, I am feeling sad. We hope that it was a good experience for all Singaporeans and tourists,” kata Norazani.

Menurut Norazani, lebih dari dua juta orang telah mengunjungi Snow City selama 26 tahun beroperasi.

“We may be small, but I think the memories we have given visitors are very lasting. More than two million people have visited us,” ujarnya.

Snow City dibuka pada Juni 2000 sebagai pusat salju dalam ruangan permanen pertama di Singapura. Tempat tersebut memungkinkan masyarakat menikmati salju dan suhu di bawah titik beku meski Singapura dikenal sebagai negara beriklim tropis.

Hari Terakhir Snow City Penuh

Pada hari terakhir operasional, Snow City dipadati pengunjung. Sebanyak 1.400 tiket yang tersedia secara daring habis terjual sehingga pengunjung tanpa tiket tidak diperbolehkan masuk.

Salah satu wahana yang masih diminati pengunjung adalah Drift on Ice, wahana bumper car di atas es yang beroperasi dalam suhu di bawah titik beku. Wahana tersebut menjadi pengalaman bumper car bersuhu subzero pertama di Singapura.

Snow City juga dikenal memiliki sejumlah wahana dan pencapaian khusus. Di antaranya Glacier Luge sepanjang 120 meter dan arena bumper car di atas es.

Norazani mengatakan Snow City telah mencatat 14 rekor dalam Singapore Book of Records. Salah satunya adalah penciptaan salju sungguhan pertama di Singapura menggunakan teknologi serta penggunaan salju dengan kualitas seperti salju pegunungan.

Penutupan Snow City merupakan bagian dari keputusan Science Centre Board untuk memperbarui penawaran wisata di tengah perubahan minat pengunjung dan perkembangan industri atraksi wisata.

Ditutup dengan Kampanye One Last Snowfall

Menjelang penutupan, Snow City menggelar kampanye perpisahan bertajuk One Last Snowfall yang berlangsung sejak Juni hingga September.

Kampanye tersebut menghadirkan sejumlah pengalaman dan penawaran terbatas, termasuk bermain salju selama satu jam dan menikmati wahana bumper car dengan potongan harga 30 persen dari harga tiket normal.

Salah satu keluarga yang datang pada hari terakhir adalah Joshua Heng, 57, bersama istri dan dua anaknya.

“It’s a wonderful place to come to. Today is the last day for PSLE and the last day for Snow City,” kata Joshua.

Istrinya, Helen Ng, mengatakan Snow City memiliki nilai sentimental bagi banyak warga Singapura.

“This is an important and sentimental place, which a lot of Singaporeans value,” ujarnya.

Keluarga tersebut mengatakan wahana seluncur menjadi salah satu favorit mereka. Kedua anak perempuan mereka bahkan telah mencoba wahana tersebut sebanyak tujuh kali.

Setelah seluruh pengunjung meninggalkan Snow City, para staf berkumpul untuk makan malam bersama. Norazani kemudian menyampaikan salam perpisahan kepada para staf sebelum meninggalkan tempat yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan kariernya.

Norazani akan meninggalkan Singapura pada 4 Oktober. Ia telah diminta menjadi konsultan untuk Almaty Children’s Science Museum di Kazakhstan, yang berada di bawah Kementerian Pendidikan negara tersebut dan dijadwalkan dibuka pada akhir Oktober. (*)