Studi Ungkap Hutan Buatan di China Tumbuh Lebih Cepat Dibanding Hutan Alami

Jumat, 03 Juli 2026 14:06 WIB

Penulis:Pratiwi

padang.jpg

(sijori.id) – Hutan-hutan buatan yang ditanam dalam program reboisasi besar-besaran di China ternyata tumbuh lebih cepat dibandingkan hutan alami. Temuan tersebut terungkap dalam penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa pohon-pohon di hutan buatan merespons peningkatan kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer dengan lebih kuat.

Selama beberapa dekade terakhir, China terus memperluas kawasan hutannya melalui proyek "Great Green Wall", sebuah program penghijauan untuk menghambat perluasan Gurun Gobi dan Gurun Taklamakan.

Sejak 1978, negara itu telah menanam sekitar 66 miliar pohon dan berencana menambah 34 miliar pohon lagi hingga pertengahan abad ini.

 

Hutan Buatan Tumbuh 66 Persen Lebih Cepat

Penelitian yang dipimpin ahli ekologi lanskap dari Peking University Shenzhen, Yuhang Luo, membandingkan pertumbuhan hutan buatan dengan hutan alami menggunakan data satelit.

Tim peneliti mengukur Leaf Area Index (LAI) atau indeks luas daun, yakni indikator kepadatan tajuk pohon yang berperan penting dalam penyerapan karbon.

Hasilnya menunjukkan bahwa hutan buatan mengalami peningkatan luas tajuk daun 66 persen lebih cepat dibandingkan hutan alami.

Menurut Luo, sebagian besar perbedaan tersebut disebabkan usia pohon di hutan buatan yang relatif lebih muda.

"Pohon muda memang tumbuh lebih cepat dibandingkan pohon yang sudah tua," jelasnya.

Namun, bahkan ketika dibandingkan pada usia dan kondisi lingkungan yang sama, hutan buatan masih mencatat pertumbuhan sekitar 4,6 persen lebih cepat daripada hutan alami. Perbedaan tersebut paling terlihat pada hutan campuran dan hutan hijau sepanjang tahun (evergreen).

 

Pengelolaan Intensif Jadi Faktor Utama

Peneliti menjelaskan keunggulan pertumbuhan hutan buatan tidak hanya dipengaruhi usia pohon, tetapi juga cara pengelolaannya.

Hutan hasil reboisasi umumnya ditanami spesies yang tumbuh cepat, seperti eukaliptus dan poplar. Selain itu, kawasan tersebut dikelola secara intensif melalui pembersihan vegetasi pesaing, pemupukan, hingga pengaturan kepadatan tanaman.

Langkah-langkah tersebut mengurangi persaingan dalam memperoleh cahaya matahari, air, dan unsur hara sehingga pohon mampu memanfaatkan peningkatan CO2 secara lebih optimal.

Penelitian juga menemukan bahwa keunggulan pertumbuhan hutan buatan mencapai puncaknya ketika pohon berusia 30–40 tahun. Setelah melewati usia 40 tahun, laju pertumbuhannya mulai menurun.

Sebaliknya, hutan alami memang tumbuh lebih lambat, tetapi memiliki pertumbuhan yang lebih stabil dalam jangka panjang.

 

Hutan Alami Tetap Penting untuk Penyimpanan Karbon

Luo menegaskan bahwa meskipun hutan buatan efektif menyerap karbon dalam jangka pendek, hutan alami tetap memiliki peran yang tidak tergantikan sebagai penyimpan karbon jangka panjang sekaligus menjaga ketahanan ekosistem.

"Hutan buatan dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk meningkatkan penyerapan karbon dalam jangka pendek, tetapi keunggulan itu bersifat sementara. Untuk penyimpanan karbon jangka panjang dan ketahanan ekosistem, hutan alami tetap tidak tergantikan," ujarnya.

 

Perlu Penyempurnaan Model Perubahan Iklim

Penelitian ini juga menyoroti bahwa banyak model iklim global belum mampu membedakan karakteristik antara hutan alami dan hutan buatan.

Menurut Luo, pengelolaan lahan memiliki pengaruh yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar menanam lebih banyak pohon.

"Ini bukan hanya soal menanam pohon sebanyak mungkin. Yang juga penting adalah kapan pohon ditanam, jenis pohon yang dipilih, serta bagaimana hutan tersebut dikelola sepanjang waktu," katanya.

Ia berharap hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dalam merancang program reboisasi yang lebih efektif untuk mendukung mitigasi perubahan iklim sekaligus meningkatkan akurasi perhitungan penyerapan karbon di masa depan. (*)