Jumat, 17 Juli 2026 21:19 WIB
Penulis:Pratiwi

YOGYAKARTA (sijori.id) – Perjuangan dan prestasi mengantarkan Tiara Julianti (18) mewujudkan impian yang telah ia genggam sejak kecil. Lulusan SMA Negeri 1 Tangerang itu berhasil diterima di Program Sarjana Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) melalui Jalur Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi (PBU).
Tak hanya berhasil masuk salah satu fakultas kedokteran paling bergengsi di Indonesia, Tiara juga memperoleh subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 100 persen. Dengan demikian, ia dapat menempuh pendidikan kedokteran di UGM tanpa harus membayar biaya kuliah.
Keberhasilan tersebut lahir dari perjuangan panjang. Tiara berasal dari keluarga sederhana yang menggantungkan penghasilan dari usaha kecil berjualan keripik. Kedua orang tuanya harus mengelola keuangan dengan cermat karena pendapatan usaha yang tidak selalu stabil, termasuk untuk membiayai pendidikan ketiga anak mereka.
Meski menghadapi keterbatasan ekonomi, orang tua Tiara tidak pernah berhenti menanamkan keyakinan bahwa pendidikan merupakan investasi terbaik bagi masa depan. Bagi keluarga ini, kondisi finansial bukan alasan untuk menyerah, melainkan motivasi untuk terus berusaha.
"Menjadi dokter sudah menjadi cita-cita saya sejak kecil. Saat pandemi COVID-19, tekad itu semakin kuat karena saya ingin memberikan dampak positif bagi masyarakat," ujar Tiara saat diwawancarai Tim UGM News di Teluknaga, Tangerang, Banten.
Aktif Berprestasi Sejak Sekolah
Tiara dikenal sebagai siswa yang konsisten mencatatkan prestasi akademik maupun nonakademik sejak bangku sekolah dasar hingga SMA. Selain mempertahankan nilai akademik yang baik, ia aktif mengikuti berbagai organisasi, kompetisi, dan kegiatan ekstrakurikuler.
Sejumlah prestasi yang pernah diraih antara lain dalam Olimpiade Biologi, lomba debat, kompetisi karya tulis ilmiah, hingga menjadi juara kedua nasional pada ajang cheerleading.
Menurut Tiara, setiap pengalaman tersebut membentuk karakter disiplin, tangguh, dan mampu menghadapi berbagai tantangan.
Di balik pencapaiannya, terdapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya. Sang ibu, Siti Rohani (41), setiap hari bangun sebelum subuh untuk menyiapkan kebutuhan putrinya sebelum membantu sang suami, Sabdi (51), berjualan keripik.
Ketika Tiara sempat gagal pada salah satu jalur seleksi masuk perguruan tinggi, orang tuanya tidak pernah memintanya menyerah. Sebaliknya, mereka terus memberikan semangat agar tetap mencoba hingga berhasil.
"Kami hanya terus mendukung dan memotivasi. Alhamdulillah, akhirnya cita-citanya tercapai," kata Rohani.
Kebahagiaan Bertambah Berkat Beasiswa UKT Penuh
Perjuangan keluarga tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika Tiara dinyatakan diterima di FK-KMK UGM. Kebahagiaan semakin lengkap setelah ia mengetahui memperoleh subsidi UKT 100 persen dari UGM.
Bagi Tiara, bantuan tersebut menjadi kabar yang sangat melegakan karena dapat mengurangi beban ekonomi keluarga. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, ia memahami besarnya pengorbanan kedua orang tuanya untuk membiayai pendidikan.
"Saya sudah sangat bersyukur bisa diterima di Fakultas Kedokteran. Saat mengetahui mendapat subsidi UKT 100 persen, rasanya benar-benar lega. Terima kasih kepada UGM atas kesempatan ini," ujarnya.
Sementara itu, Sabdi mengaku tidak pernah membayangkan putrinya bisa diterima di Fakultas Kedokteran UGM.
"Rasanya seperti mimpi. Saya tidak menyangka Tiara bisa diterima di Kedokteran UGM," ungkapnya.
Ingin Menjadi Dokter yang Aktif Mengedukasi Masyarakat
Memasuki dunia perkuliahan, Tiara bercita-cita menjadi dokter yang tidak hanya memberikan layanan kesehatan, tetapi juga aktif mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan.
Jika memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan spesialis, ia ingin mendalami bidang oftalmologi atau kesehatan mata. Ketertarikannya muncul karena semakin tingginya penggunaan perangkat digital di kalangan generasi muda yang dinilai berpotensi memengaruhi kesehatan mata.
Tiara berharap ilmu yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di UGM dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Baginya, keberhasilan masuk Fakultas Kedokteran UGM bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal untuk mengabdikan diri kepada sesama.
Ia pun membagikan pesan kepada generasi muda yang sedang mengejar cita-cita.
"Jangan pernah takut bermimpi. Bermimpi itu gratis, yang terpenting adalah terus bekerja keras," tuturnya.
Bagikan