UMKM Indonesia Catat Transaksi Ekspor USD 90,04 Juta Lewat Business Matching hingga Juli 2025

Selasa, 12 Agustus 2025 16:58 WIB

Penulis:Pratiwi

Editor:Pratiwi

fajarini.jpg
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi

JAKARTA (sijori.id) – Dalam tujuh bulan pelaksanaan, inisiatif business matching ekspor produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang digagas Kementerian Perdagangan berhasil membukukan nilai transaksi kumulatif USD 90,04 juta atau sekitar Rp 1,46 triliun. Capaian tersebut terdiri dari pesanan pembelian (purchase order/PO) senilai USD 55,09 juta dan potensi transaksi sebesar USD 34,95 juta.

Program ini merupakan bagian dari UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor), yang dirancang untuk mempertemukan pelaku UMKM Indonesia dengan calon pembeli luar negeri secara langsung dan tepat sasaran.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen memperkuat peran UMKM dalam rantai perdagangan internasional.

“Sejak Januari hingga Juli 2025, business matching UMKM BISA Ekspor telah mencatat USD 90,04 juta. Kegiatan ini menjadi jembatan penting, bukan sekadar membuka wawasan pelaku UMKM terhadap pasar global, tetapi juga mewujudkan transaksi nyata dengan buyer internasional,” ujarnya.

Sepanjang periode tersebut, melalui 46 perwakilan perdagangan (perwadag) RI di 33 negara mitra dagang, Kemendag memfasilitasi 410 kegiatan business matching yang diikuti 773 UMKM. Rangkaian kegiatan mencakup 268 sesi kurasi produk (pitching) dan 142 pertemuan langsung dengan calon pembeli di negara tujuan.

Untuk bulan Juli 2025 saja, transaksi yang tercatat mencapai USD 2,99 juta, terdiri dari PO senilai USD 2,39 juta dan potensi transaksi USD 600 ribu. Tercatat 45 agenda business matching terlaksana, yang meliputi 27 sesi pitching dan 18 pertemuan bisnis. Produk yang dipasarkan antara lain ikan bandeng, minyak sawit, telur, confectionery, kosmetik, kopi, dekorasi rumah, kertas, serta makanan dan minuman olahan.

Dukungan juga datang dari 15 lembaga pembina UMKM sepanjang Juli 2025, termasuk Pasar Digital UMKM (PaDi), Bank Indonesia, BNI, BRI, LPEI, BSI, Pertamina, Bank Jatim, dan Export Center. Bahkan, telah dimulai pula kerja sama pitching dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bangka Belitung.

Puntodewi menambahkan, Kemendag akan memperluas jangkauan business matching melalui pendekatan inovatif dan kolaboratif. Ia juga menegaskan keberlanjutan dukungan khusus bagi eksportir perempuan untuk mendorong peran aktif mereka di perdagangan internasional.

 

Panduan Partisipasi
 

Program UMKM BISA Ekspor terbuka bagi seluruh UMKM, baik yang telah mengekspor maupun yang baru ingin menjajaki pasar luar negeri. Peserta diharapkan memiliki legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) perusahaan, sertifikasi sesuai karakteristik produk, kapasitas produksi yang memadai, dan kemasan sesuai standar ekspor. Pendaftaran dapat dilakukan melalui platform InaExport di https://www.inaexport.id.

Optimisme ini didukung data ekspor nonmigas Indonesia pada Januari—Juni 2025 yang mencapai USD 128,39 miliar, tumbuh 8,96 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Komoditas utama mencakup minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya senilai USD 15,89 miliar (pangsa 12,37 persen), batu bara USD 15,33 miliar (11,94 persen), serta besi dan baja USD 13,79 miliar (10,74 persen). Tujuan ekspor terbesar adalah Tiongkok (USD 29,31 miliar/22,83 persen), Amerika Serikat (USD 14,79 miliar/11,52 persen), dan India (USD 8,97 miliar/6,99 persen). (*)