Tips Mendongkrak Ekonomi Kepri

Pratiwi - Selasa, 12 Oktober 2021 22:54 WIB
Dunia pariwisata tanah air terpuruk setahun ini. undefined

BATAM (sijori.id) - Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Musni Hardi, mengungkapkan sejumlah metode yang diperlukan agar pertumbuhan ekonomi Kepri tumbuh berkesinambungan dalam jangka panjang.

"Mengoptimalkan posisi Kepri di jalur strategis perdagangan dengan meningkatkan kapasitas pelabuhan dan bandara dalam rangka meningkatkan efisiensi logistik barang," ucapnya, Senin (11/10).

Kemudian membangun infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas antar kawasan maupun antar daerah untuk mendukung mobilitas orang dan barang.

"Lalu, mendorong Kepri sebagai tourist-hub & businees-hub untuk mendorong sektor pariwisata Kepri, antara lain sebagai pusat MICE," jelasnya.

Langkah berikutnya, yakni mengendalikan inflasi dengan meningkatkan kapasitas produksi lokal dan memastikan ketersediaan barang.

"Caranya yakni melalui peningkatan produksi melalui perluasan lahan, tehnik budidaya seperti urban farming. Kemudian adopsi digital dan melakukan perdagangan antar daerah untuk menciptakan stabilitas harga," terangnya.

Musni kemudian menambahkan bahwa upaya membangun dan mengembangkan kemitraan industri dengan UMKM, serta lembaga pendidikan untuk pemenuhan SDM diperlukan, untuk menghemat pengunaan devisa serta perbaikan defisit transaksi berjalan.

"Hal tersebut juga didorong oleh pemberian insentif bagi industri pengolahan berbasis potensi SDA lokal, khususnya sektor maritim. Dan terakhir, mendorong korporatisasi dan mempercepat digitalisasi UMKM," jelasnya.

Sementara itu, Badan Pengusahaan (BP) Batam paparkan capaian penerimaan sepanjang 2020. Berdasarkan data BP Batam, pendapatan tertinggi dicapai oleh Badan Usaha Pelabuhan (BUP). Sementara, pendapatan terendah dicapai oleh Fasilitas Lingkungan (Fasling)/Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

Secara keseluruhan, capaian realisasi penerimaan BP Batam menurun sekitar 10 persen dibandingkan dengan 2019. Totalnya mencapai Rp 638,8 miliar, turun dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 693,3 miliar.

Pendapatan BUP tahun 2020 mencapai Rp 339,4 miliar, turun sekitar 7,5 persen dari 2019 yang mencapai Rp 359,2 miliar. Kemudian, pendapatan Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) Hang Nadim mencapai Rp 139,5 miliar, turun sekitar 30 persen dari 2019 yang mencapai Rp 201,8 miliar.

Selanjutnya Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam yang mencapai Rp 114,1 miliar. Pendapatan RSBP naik sekitar 30 persen dari 2019 yang mencapai Rp 88,7 miliar. Dan terakhir, pendapatan dari Fasling/SPAM naik dari Rp 43,5 miliar di 2019 menjadi Rp 45,6 miliar di tahun ini.

"Adapun sektor yang terpengaruh pandemi ini memang yang berhubungan dengan perhubungan, khususnya bandar udara dan juga pelabuhan," kata Deputi IV BP Batam, Shahril Japarin.

Untuk tahun ini, proyeksi pendapatan BP Batam ditargetkan menjadi Rp 848 miliar.

"Triwulan pertama 2021 ini berjalan normal, meski diwarnai pandemi," tambahnya.

Untuk meningkatkan pendapatan BP Batam hingga akhir tahun, sistem perizinan online terpadu telah dirilis, khususnya yang menyangkut perizinan di pelabuhan."Sekarang sudah full online, jadi bisa menghindari tatap muka dengan staf kami di pelabuhan. Begitu juga dengan rumah sakit, yang sudah dilengkapi peralatan terbaru dan tambah tenaga medis termasuk dokter spesialis. RSBP sudah dilengkapi peralatan jantung, dan tahun dengan dengan peralatan khusus kanker," ucapnya.

Sementara itu, di bandara akan segera dibangun. BP Batam juga telah menetapkan mitra pengelolaan, yakni konsorsium Angkasa Pura, Wika dan Incheon. Total investasi yang akan digelontorkan untuk membangun bandara mencapai Rp 6,8 triliun.

Editor: Pratiwi
Tags Tips pariwisataBagikan

RELATED NEWS