Rabu, 22 April 2026 09:32 WIB
Penulis:Pratiwi
Editor:Pratiwi

SINGAPURA (sijori.id) – Dolar Singapura (SGD) mencatat penguatan signifikan terhadap sejumlah mata uang Asia sepanjang April 2026, bahkan menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini terjadi di tengah tekanan global akibat konflik di Timur Tengah yang justru melemahkan mata uang negara-negara pengimpor energi.
Berdasarkan data LSEG, pada puncaknya Kamis (16 April 2026), nilai tukar SGD mencapai 13.562 rupiah per S$1—melonjak dari level di bawah 13.000 rupiah pada awal tahun.
Penguatan juga terjadi terhadap yen Jepang, di mana S$1 setara 125,34 yen, naik dari 121,93 yen pada 1 Januari. Tren serupa terlihat pada won Korea Selatan dan dolar Taiwan yang turut melemah terhadap mata uang Negeri Singa tersebut.
Daya Tarik Safe Haven Dorong Penguatan
Para analis menilai penguatan dolar Singapura didorong oleh reputasi negara tersebut sebagai pusat keuangan yang stabil dan aman di tengah ketidakpastian global.
Strategis valuta asing dari United Overseas Bank, Peter Chia, menyebut SGD mendapatkan keuntungan dari statusnya sebagai “safe haven”. Hal ini diperkuat oleh pandangan Saktiandi Supaat dari Maybank yang menyoroti peringkat kredit AAA Singapura sebagai faktor utama kepercayaan investor.
Selain itu, arus modal global disebut mulai bergeser ke Singapura, terutama dari kawasan yang terdampak konflik. Analis dari Brandywine Global Investment Management, Carol Lye, menambahkan bahwa pertumbuhan sektor berbasis kecerdasan buatan (AI) turut meningkatkan permintaan terhadap SGD bahkan sebelum konflik terjadi.
Peran Kebijakan Monetary Authority of Singapore
Faktor penting lainnya adalah kebijakan moneter. Tidak seperti banyak negara yang mengandalkan suku bunga, Singapura mengelola inflasi melalui nilai tukar.
MAS menggunakan kerangka nilai tukar efektif nominal (S$NEER), yakni membiarkan SGD bergerak dalam kisaran tertentu terhadap mata uang mitra dagang utama. Rentang ini dapat disesuaikan melalui kemiringan (slope), titik tengah, dan lebar band.
Pekan lalu, MAS mengumumkan akan sedikit meningkatkan laju apresiasi SGD, yang berarti memberi ruang bagi mata uang tersebut untuk menguat lebih cepat guna meredam tekanan inflasi impor.
Dibanding Dolar AS, Masih Seimbang
Meski menguat terhadap mata uang Asia, pergerakan SGD terhadap dolar AS relatif lebih stabil. Analis menilai kedua mata uang sama-sama mendapat dukungan dari meningkatnya ketidakpastian global.
Dolar AS tetap kuat karena faktor inflasi berbasis energi dan kebijakan moneter yang cenderung ketat, sementara SGD ditopang fundamental domestik yang solid.
Dampak bagi Konsumen
Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor, penguatan SGD memberikan keuntungan bagi konsumen di Singapura. Nilai tukar yang lebih kuat membuat harga barang impor dan biaya perjalanan ke luar negeri menjadi lebih terjangkau.
Namun, kondisi ini juga berdampak pada sektor pariwisata. Wisatawan asing akan merasakan biaya yang lebih mahal karena mata uang mereka menjadi relatif lebih lemah terhadap SGD.
Di sisi lain, risiko inflasi tetap mengintai. Gangguan pasokan energi dari konflik Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga, termasuk melalui biaya pupuk yang dapat memicu inflasi pangan global dalam beberapa bulan ke depan.
Prospek ke Depan
Analis memperkirakan penguatan dolar Singapura masih akan berlanjut, seiring ekspektasi pengetatan kebijakan lanjutan oleh MAS. Bahkan, beberapa bank memproyeksikan penyesuaian kebijakan bisa kembali dilakukan pada pertengahan hingga akhir 2026.
Dengan kombinasi stabilitas ekonomi, arus modal masuk, dan kebijakan moneter yang proaktif, dolar Singapura dinilai tetap menjadi salah satu mata uang paling tangguh di kawasan Asia. (*)
Bagikan