Indonesia Lepas Ribuan Kumbang Afrika untuk Dongkrak Produksi Sawit

Senin, 13 April 2026 11:35 WIB

Penulis:Pratiwi

sawit.jpg
Kebun sawit. | Unspalsh

JAKARTA (sijori.id) - Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia mulai menempuh langkah baru untuk mengatasi stagnasi produksi. Salah satunya dengan melepas ribuan serangga kecil asal Afrika ke perkebunan sawit di Sumatra Utara.

Sebanyak 7.000 kumbang jenis weevil Afrika dilepas pada 9 April 2026 di perkebunan milik PT Perkebunan Nusantara IV. Langkah ini menjadi tahap awal dari rencana besar penyebaran hingga satu juta serangga serupa di berbagai wilayah Indonesia.

Tingkatkan Penyerbukan dan Produktivitas

Kumbang weevil dikenal berperan penting dalam proses penyerbukan kelapa sawit. Dengan meningkatnya efektivitas penyerbukan, diharapkan pembentukan buah juga lebih optimal sehingga berdampak langsung pada peningkatan produksi.

Program ini dipimpin oleh peneliti dari Indonesian Oil Palm Research Institute, Agus Eko Prasetyo. Ia menyebutkan bahwa dampak awal dari pelepasan kumbang ini diperkirakan mulai terlihat dalam waktu 10 hingga 12 bulan.

Tahap pertama dilakukan di area perkebunan seluas sekitar 8.000 hektare yang berada dekat fasilitas penelitian.

Belajar dari Keberhasilan Masa Lalu

Penggunaan kumbang weevil bukan hal baru di Indonesia. Program serupa pernah dilakukan dalam skala lebih kecil pada era 1980-an dan terbukti mampu meningkatkan produktivitas sawit secara signifikan.

Pada awal 2025, sekitar 6.000 kumbang dikumpulkan dari Tanzania, lalu diuji di laboratorium di Sumatra Utara. Pengujian ini mencakup interaksi dengan serangga lokal serta kemampuan berkembang biak sebelum dilepas ke alam.

Karena tanaman kelapa sawit berasal dari Afrika, kumbang dari wilayah tersebut dinilai memiliki kesesuaian alami dalam membantu proses penyerbukan.

Produksi Stagnan Akibat Tanaman Tua

Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan produksi sawit Indonesia mengalami stagnasi. Salah satu penyebab utamanya adalah banyaknya tanaman tua yang belum diremajakan.

Replanting atau penanaman ulang sering tertunda karena membutuhkan waktu lama sebelum pohon kembali berbuah. Akibatnya, produktivitas kebun menurun.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, memperkirakan penggunaan weevil dapat meningkatkan produksi tandan buah segar hingga 10–15 persen.

Bukan Solusi Tunggal

Meski menjanjikan, penggunaan kumbang weevil bukan solusi tunggal untuk masalah industri sawit nasional. Sejumlah faktor lain tetap menjadi penentu utama produktivitas, antara lain:

  • penggunaan pupuk
     
  • kondisi cuaca
     
  • praktik pengelolaan kebun
     
  • serta peremajaan tanaman tua

Dengan kata lain, inovasi ini perlu diiringi perbaikan menyeluruh di sektor hulu perkebunan.

Dorong Program Biofuel Nasional

Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat program biofuel. Kebutuhan minyak sawit dalam negeri meningkat, terutama setelah lonjakan harga energi global akibat konflik geopolitik.

Dengan meningkatnya produksi, Indonesia diharapkan mampu menjaga pasokan domestik tanpa mengorbankan ekspor.

(*)