Jumat, 03 Juli 2026 14:24 WIB
Penulis:Pratiwi

KOREA (sijori.id) – Hampir semua sistem tulisan besar di dunia berkembang secara bertahap selama ratusan hingga ribuan tahun. Tidak ada yang mengetahui secara pasti siapa pencipta huruf A, B, atau C, maupun bentuk asli huruf-huruf pada alfabet yang digunakan saat ini.
Namun, ada satu pengecualian yang unik, yakni Hangul, sistem tulisan Korea. Berbeda dari alfabet lain, Hangul diketahui dirancang secara sengaja oleh satu orang, memiliki tujuan yang jelas, waktu penciptaan yang pasti, serta teori linguistik yang terdokumentasi dengan baik.
Dokumen yang menjelaskan proses pembuatannya pun masih bertahan hingga kini dan tetap dapat dibaca, lebih dari lima abad setelah pertama kali diterbitkan.
Menurut Encyclopaedia Britannica, Hangul merupakan satu-satunya sistem tulisan utama di dunia yang diketahui secara pasti penciptanya.
Hangul dirancang atas prakarsa Raja Sejong Agung dan diperkenalkan secara resmi pada 1446 melalui dokumen berjudul Hunminjeongeum.
Berbeda dengan alfabet Latin, Arab, Tiongkok, atau Devanagari yang berkembang melalui perubahan bertahap selama berabad-abad, Hangul diciptakan dalam satu proyek terencana dengan tujuan utama meningkatkan literasi masyarakat Korea.
Dalam pengantar Hunminjeongeum, Raja Sejong menjelaskan bahwa bahasa Korea memiliki sistem bunyi yang berbeda dengan bahasa Tionghoa. Karena itu, penggunaan aksara Tionghoa (Hanja) dinilai tidak sesuai untuk mewakili pelafalan bahasa Korea.
Akibatnya, hanya kalangan bangsawan dan mereka yang mampu menempuh pendidikan bertahun-tahun yang bisa membaca dan menulis.
Saat itu diperkirakan hanya sekitar 3–5 persen penduduk Korea yang melek huruf.
Raja Sejong kemudian menciptakan sistem tulisan baru yang jauh lebih sederhana.
Ia bahkan menyatakan bahwa orang cerdas dapat mempelajarinya dalam satu pagi, sedangkan orang biasa dapat menguasainya dalam waktu sepuluh hari.
Keunikan Hangul tidak hanya terletak pada sejarahnya, tetapi juga pada desain setiap hurufnya.
Penjelasan mengenai bentuk huruf tersebut tertuang dalam Hunminjeongeum Haerye, dokumen yang menjelaskan teori di balik rancangan Hangul.
Huruf-huruf konsonan dasar dibuat menyerupai posisi organ mulut ketika menghasilkan suatu bunyi.
Sebagai contoh:
Konsonan-konsonan lain kemudian dibentuk dengan menambahkan garis-garis tertentu pada lima bentuk dasar tersebut untuk menunjukkan perubahan bunyi, seperti aspirasi atau karakter fonetik lainnya.
Pendekatan ini menjadikan Hangul sebagai salah satu contoh paling jelas dari featural writing, yaitu sistem tulisan yang bentuk hurufnya secara langsung mencerminkan sifat bunyi yang diwakili.
Rancangan huruf vokal Hangul menggunakan prinsip yang berbeda.
Raja Sejong mengadopsi konsep filsafat Konfusianisme yang membagi alam semesta menjadi tiga unsur utama, yaitu:
Ketiga unsur tersebut diwujudkan dalam bentuk simbol sederhana:
Seluruh huruf vokal dalam Hangul merupakan kombinasi dari tiga bentuk dasar tersebut.
Selain itu, susunan vokalnya juga mencerminkan konsep harmoni bunyi dalam bahasa Korea, termasuk pembagian antara vokal "terang" dan "gelap" yang memengaruhi pembentukan kata.
Para ahli bahasa menilai Hangul sebagai salah satu sistem tulisan paling logis dan ilmiah yang pernah diciptakan manusia.
Tidak hanya mudah dipelajari, bentuk setiap huruf juga memberikan petunjuk mengenai cara pengucapannya.
Lebih dari lima abad setelah diperkenalkan, Hangul tetap digunakan sebagai sistem tulisan resmi Korea Selatan dan Korea Utara.
Keberhasilan Hangul juga menjadi contoh bagaimana sebuah sistem tulisan dapat dirancang secara ilmiah untuk meningkatkan akses pendidikan dan literasi masyarakat secara luas. (*)
Bagikan