Kamis, 14 Mei 2026 10:00 WIB
Penulis:Pratiwi
Editor:Pratiwi

(sijori.id)- Peneliti dari King Abdullah University of Science and Technology (KAUST), Arab Saudi, memperkenalkan teknologi pendingin pasif baru bernama NESCOD yang mampu menghasilkan efek pendinginan tanpa menggunakan listrik maupun pendingin udara konvensional.
Teknologi inovatif ini dikembangkan sebagai solusi ramah lingkungan untuk menjawab meningkatnya kebutuhan pendinginan global, terutama di wilayah terpencil, daerah panas ekstrem, atau kawasan yang belum terjangkau jaringan listrik.
Secara mekanis, NESCOD memanfaatkan sifat termodinamika dari proses pelarutan endotermik. Sistem ini bekerja dengan menyerap panas dari lingkungan saat zat tertentu larut di dalam air, sehingga menghasilkan efek pendinginan alami tanpa konsumsi energi listrik.
Selain itu, NESCOD juga mampu menangkap energi matahari dan menyimpannya untuk digunakan kembali pada siklus pendinginan berikutnya. Teknologi ini dinilai menjadi terobosan penting dalam rekayasa lingkungan karena dapat mengurangi ketergantungan terhadap pendingin udara yang boros energi dan berkontribusi terhadap emisi karbon global.
Cara Kerja NESCOD
Sistem NESCOD bekerja melalui dua tahapan utama, yakni siklus pendinginan melalui pelarutan dan regenerasi zat menggunakan tenaga surya.
Pada tahap pendinginan, garam khusus berupa amonium nitrat dilarutkan ke dalam air. Reaksi kimia ini bersifat endotermik, artinya menyerap panas dari lingkungan sekitar untuk memutus ikatan ionik garam tersebut. Proses ini secara cepat menurunkan suhu cairan.
Penelitian yang dipublikasikan oleh Royal Society of Chemistry menunjukkan bahwa uji laboratorium NESCOD mampu menghasilkan daya pendinginan hingga 191 watt per meter persegi dalam kondisi standar.
Diisi Ulang Menggunakan Sinar Matahari
Untuk membuat sistem dapat digunakan berulang kali, para peneliti mengembangkan regenerator surya tiga dimensi atau 3D solar regenerator.
Perangkat ini bekerja dengan memanfaatkan sinar matahari untuk mengubah air dalam larutan garam menjadi uap. Ketika air menguap, amonium nitrat kembali membentuk kristal sehingga sistem dapat “diisi ulang” untuk siklus pendinginan berikutnya.
Dengan metode tersebut, efek pendinginan dapat disimpan dan digunakan kapan saja, termasuk pada malam hari atau musim berbeda, karena proses pendinginan dan regenerasi berlangsung secara terpisah.
Suhu Stabil dan Hemat Air
Berdasarkan hasil penelitian, NESCOD tetap mampu mempertahankan performa pendinginan setelah digunakan berkali-kali. Di bawah paparan sinar matahari standar, sistem ini dapat menguapkan air sekitar 2,2 kilogram per meter persegi per jam.
Kinerja tersebut memungkinkan suhu tetap berada pada kisaran 5 hingga 15 derajat Celsius, yang dinilai ideal untuk penyimpanan rantai dingin (cold-chain storage) maupun pendinginan ruangan.
Menariknya, sistem ini juga mampu menangkap kembali uap air yang dihasilkan sehingga air dapat digunakan ulang dengan tingkat impuritas di bawah 1 ppm (parts per million). Fitur ini sangat penting untuk wilayah kering yang memiliki keterbatasan sumber air.
Potensi Ekonomi untuk Negara Berkembang
Penelitian juga menyebutkan bahwa material utama NESCOD, khususnya amonium nitrat, tergolong murah dan mudah diperoleh karena telah lama digunakan secara luas dalam industri pupuk.
Di sisi lain, desain regenerator surya 3D dirancang memiliki tingkat penguapan tinggi meski dengan ukuran relatif kecil, sehingga mampu menekan biaya material dibandingkan teknologi pendingin tenaga surya lainnya.
Efisiensi biaya tersebut membuat NESCOD dinilai berpotensi diterapkan secara luas di negara berkembang maupun wilayah terpencil yang belum memiliki infrastruktur listrik memadai. (*)
Bagikan