Pengusaha Jepang Bangun EV Ethiopia dengan Modal US$7 Juta

Sabtu, 17 Januari 2026 10:49 WIB

Penulis:Pratiwi

dodai.jpg

ETHIOPIA (sijori.id) - Mimpi Yuma Sasaki tentang Afrika tumbuh jauh sebelum ia menginjakkan kaki di benua itu. Sejak awal kariernya, pria asal Jepang tersebut sudah membayangkan bekerja di sektor energi dan teknologi yang membawanya lintas negara Afrika. Kini, mimpi itu berwujud nyata melalui Dodai, perusahaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dengan pertumbuhan tercepat di Ethiopia.

Sasaki berhasil menghimpun pendanaan sebesar US$7 juta dari investor Jepang. Modal itu menjadi fondasi bagi Dodai untuk mengembangkan sepeda motor listrik berbasis baterai lithium-ion yang dirakit secara lokal di Ethiopia.

Perjalanan Sasaki ke Afrika bermula dari Universitas Tokyo. Usai lulus, ia sempat bergabung dengan perusahaan minyak dan gas besar di Jepang. Bukan karena tertarik pada industri migas, melainkan berharap bisa ditempatkan di Afrika. Harapan itu tak terwujud. Ia memilih mundur dan bergabung dengan PEG Africa, perusahaan energi surya yang beroperasi di Ghana dan Pantai Gading.

Sebelum benar-benar hijrah, Sasaki sempat memperkuat bekal akademik di ESSEC Business School, Prancis. Langkah itu diambil untuk mempertajam kemampuan bisnis sekaligus bahasa Inggris dan Prancis, dua modal penting untuk bekerja di Afrika.

Pada 2021, panggilan Afrika kembali datang. Sasaki sempat tinggal di Djibouti sebelum akhirnya menetap di Ethiopia. Setahun kemudian, Dodai resmi berdiri.

Berbeda dari banyak investor yang membidik kota-kota besar seperti Lagos atau Nairobi, Sasaki justru memilih Ethiopia. Negara itu dikenal rumit dari sisi birokrasi, logistik, hingga regulasi. Namun, menurut Sasaki, justru di sanalah peluang besar berada karena persaingan masih terbatas.

Dodai memproduksi sepeda motor listrik dengan harga berkisar US$1.200 hingga US$2.000, tergantung kapasitas baterai. Sekali pengisian daya, motor ini mampu menempuh jarak hingga 150 kilometer. Dalam 18 bulan terakhir, sekitar 1.500 unit telah terjual, sebagian besar digunakan untuk kebutuhan pengantaran barang.

Ke depan, Dodai menyiapkan teknologi tukar baterai (battery swapping). Dengan sistem ini, pengguna cukup menukar baterai kosong dengan baterai penuh dalam hitungan menit. Skema tersebut diproyeksikan memangkas harga motor hingga 40–50 persen, sehingga lebih terjangkau bagi masyarakat perkotaan.

Pendanaan Dodai mayoritas berasal dari Jepang, antara lain Nissay Capital, Inclusion Japan, dan Musashi Seimitsu. Menurut Sasaki, investor Jepang dikenal sabar dan berorientasi jangka panjang, sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk membangun bisnis di Ethiopia.

Dalam lima tahun mendatang, Sasaki menargetkan Dodai melayani hingga 50 ribu pengguna battery swapping di Ethiopia dan berekspansi ke lima atau enam negara Afrika lainnya. Fokusnya tak hanya pada kendaraan listrik, tetapi juga pengembangan perangkat lunak, data, dan kemitraan dengan produsen lokal.

Bagi Sasaki, Afrika bukan sekadar pasar, melainkan ruang pembuktian bahwa teknologi mobilitas modern dapat tumbuh dari negara-negara yang kerap dipandang sulit. (*)