Pos Denmark Antar Surat Terakhir 30 Desember, Tradisi 400 Tahun Berakhir

Selasa, 23 Desember 2025 06:40 WIB

Penulis:Pratiwi

bus-surat.jpg

DENMARK (sijori.id) -  Layanan pos Denmark bakal menutup lembar sejarah panjang. Pada 30 Desember mendatang, layanan pengiriman surat terakhir akan dilakukan, menandai berakhirnya tradisi lebih dari 400 tahun.

Keputusan itu diumumkan PostNord awal tahun ini. Perusahaan hasil penggabungan layanan pos Swedia dan Denmark pada 2009 tersebut menyatakan akan menghentikan distribusi surat di Denmark. Dampaknya, sekitar 1.500 pegawai akan dirumahkan dan 1.500 kotak pos merah ikonik dicabut. Digitalisasi yang kian masif disebut sebagai penyebab utama.

PostNord menyebut Denmark sebagai salah satu negara paling terdigitalisasi di dunia. Permintaan pengiriman surat anjlok drastis, sementara belanja daring terus melonjak. Fokus bisnis pun dialihkan ke layanan paket.

Penarikan kotak pos justru memicu antusiasme warga. Seribu unit kotak pos yang dilepas ke publik ludes terjual hanya dalam tiga jam. Harganya dipatok 2.000 kroner Denmark untuk kondisi baik dan 1.500 kroner untuk kondisi bekas pakai. Sebanyak 200 unit lainnya dijadwalkan dilelang Januari mendatang. PostNord juga memastikan pengembalian dana perangko Denmark yang belum terpakai, meski dalam waktu terbatas.

Meski PostNord angkat kaki, pengiriman surat tak sepenuhnya lenyap. Perusahaan Dao akan mengambil alih layanan tersebut mulai 1 Januari. Volume kiriman diproyeksikan melonjak dari sekitar 30 juta surat pada 2025 menjadi 80 juta tahun depan. Namun, mekanismenya berubah. Warga harus mengirim surat melalui gerai Dao atau membayar lebih untuk penjemputan dari rumah. Pembayaran ongkos kirim dilakukan secara daring atau lewat aplikasi.

Layanan pos Denmark telah beroperasi sejak 1624. Dalam 25 tahun terakhir, jumlah surat merosot lebih dari 90 persen. Namun, di tengah tren digital, muncul gejala kebangkitan surat fisik di kalangan anak muda.

Riset Dao menunjukkan kelompok usia 18–34 tahun mengirim surat dua hingga tiga kali lebih banyak dibanding kelompok usia lain. Peneliti tren Mads Arlien-Søborg menilai hal itu sebagai upaya generasi muda mencari keseimbangan dari kejenuhan digital. Menulis surat kini menjadi pilihan sadar.

Secara hukum, Denmark wajib menyediakan layanan pengiriman surat. Artinya, jika Dao berhenti, pemerintah harus menunjuk pihak lain. Kementerian transportasi menegaskan perubahan ini tak berdampak praktis. Warga tetap bisa berkirim surat, hanya melalui operator berbeda. Nilai perubahan tersebut, menurut mereka, lebih bersifat sentimental.

Namun, pandangan berbeda disampaikan Magnus Restofte, Direktur Museum Pos, Telekomunikasi, dan Komunikasi Enigma di Kopenhagen. Menurutnya, jika komunikasi digital lumpuh, sangat sulit kembali ke sistem pos fisik. Terlebih, Denmark sudah sangat bergantung pada teknologi digital.

Lewat sistem identitas digital nasional MitID, hampir seluruh urusan resmi—mulai perbankan hingga layanan kesehatan—dilakukan melalui pos digital. Meski ada opsi keluar dan memilih surat fisik, hanya sedikit warga yang memanfaatkannya. Saat ini, 97 persen penduduk usia di atas 15 tahun terdaftar di MitID dan hanya 5 persen yang menolak pos digital.

Restofte menilai publik Denmark cukup pragmatis menyikapi perubahan ini. Minimnya surat fisik justru membuat nilainya kian tinggi. Menerima surat tulisan tangan kini dianggap lebih bermakna karena menunjukkan waktu dan biaya yang benar-benar dikeluarkan pengirim.

“Kami telah menjadi layanan pos Denmark selama 400 tahun. Menutup bagian sejarah ini bukan keputusan mudah,” ujar Wakil CEO PostNord Denmark, Kim Pedersen. “Namun masyarakat makin digital. Jumlah surat terus menyusut dan pasar ini tak lagi menguntungkan.” (*)