Senin, 16 Februari 2026 21:07 WIB
Penulis:Pratiwi

(sijori.id) - Sisa batang pisang yang selama ini dianggap limbah ternyata mulai dilirik industri. Bukan lagi sekadar bahan kerajinan, kini batang pisang atau pseudostem diolah menjadi bahan baku standar untuk tekstil, kertas, hingga material komposit ramah lingkungan.
Dalam sistem pertanian, hanya sebagian kecil tanaman pisang yang menjadi bahan pangan. Sisanya berupa biomassa yang kerap dibiarkan membusuk atau dibuang. Di sejumlah wilayah produksi, limbah ini bahkan bisa mencapai ratusan ton per hektare, sehingga menarik perhatian industri untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.
Penelitian di negara produsen seperti Brazil menunjukkan bahwa pseudostem pisang menghasilkan limbah dalam jumlah sangat besar setiap tahun. Padahal, bagian batang tersebut memiliki serat selulosa kuat dengan daya tarik tinggi, bahkan disebut mampu menyaingi serat alami lain seperti jute dan sisal.
Dari Kerajinan ke Skala Pabrik
Jika sebelumnya serat pisang identik dengan produk kerajinan, kini pendekatan industri mulai berkembang. Perusahaan membangun rantai pasok yang lebih terstruktur, lengkap dengan standar mutu, sistem pelacakan bahan, serta prosedur keamanan produksi.
Perubahan ini terlihat ketika proyek pengembangan tekstil serat pisang dipamerkan oleh FIESC bersama SENAI Institute of Textile Technology, Apparel and Design. Salah satu inisiatif bernama Banana Têxtil bahkan berhasil masuk final ajang BRICS Solutions Awards, menandakan material tersebut mulai diakui layak untuk produksi massal.
Cara Pabrik Mengolah Batang Pisang
Proses produksi biasanya dimulai di dekat lahan pertanian. Batang pisang yang segar mengandung banyak air, sehingga jika diangkut jauh justru meningkatkan biaya logistik. Setibanya di pabrik, bahan baku disortir berdasarkan ukuran, kadar air, serta kondisi fisik.
Tahap utama pengolahan menggunakan metode mekanis yang disebut decortication. Melalui rol dan pisau, bagian serat dipisahkan dari daging batang yang lebih lunak. Cara ini dinilai paling realistis untuk skala industri karena minim bahan kimia sekaligus menghasilkan serat yang mudah dipintal.
Setelah itu serat dicuci secara intensif untuk menghilangkan residu dan bau. Tantangannya ada pada penggunaan air yang cukup besar, sehingga pabrik modern mulai menerapkan sistem daur ulang air dan pengolahan limbah.
Pengeringan dan Kontrol Mutu
Serat yang sudah bersih kemudian dikeringkan dengan udara berventilasi atau oven bersuhu terkontrol. Tahap ini penting karena suhu pengeringan berpengaruh terhadap kekuatan dan warna serat.
Selanjutnya, mesin pembuka serat dan penyelaras mempersiapkan bahan untuk dipintal menjadi benang, dibuat kain nonwoven, atau dijadikan penguat material komposit. Tim kontrol mutu biasanya memantau panjang serat, kelembapan, hingga tingkat kotoran agar kualitas tetap konsisten.
Tak Hanya untuk Kain
Meski industri tekstil menjadi pasar utama, pemanfaatan serat batang pisang tidak berhenti di sana. Sejumlah riset juga mengembangkan bahan ini sebagai kertas alternatif dan kemasan ramah lingkungan. Uji coba menunjukkan kemasan berbahan serat pisang memiliki kekuatan mekanis yang mampu menyaingi pulp kertas daur ulang.
Bagian batang lainnya pun tidak terbuang. Ampas dan cairannya dapat diolah menjadi kompos, pupuk cair, biogas, hingga pupuk organik, sehingga konsep ekonomi sirkular dapat berjalan lebih utuh.
Potensi Besar, Tantangan Masih Ada
Meski menjanjikan, serat batang pisang belum bisa sepenuhnya menggantikan serat sintetis. Tantangan seperti pelatihan petani, manajemen limbah air, dan logistik masih harus dibenahi. Namun, pemanfaatan limbah pertanian ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada bahan berbasis fosil sekaligus memberi nilai ekonomi baru bagi sektor pertanian.
Pada akhirnya, konsepnya sederhana: daripada batang pisang dibiarkan membusuk setelah panen, limbah tersebut diubah menjadi produk berguna yang bisa kembali mendukung lingkungan. (*)
Bagikan