Ubah Udara Menjadi Bensin, Kok Bisa?!
(sijori.id) - Selama puluhan tahun, inovasi energi bersih bergerak di dua jalur yang kerap saling bertabrakan: menekan emisi dan tetap praktis digunakan. Mobil listrik memang lebih ramah lingkungan, tetapi persoalan infrastruktur, jarak tempuh, hingga waktu pengisian masih menjadi ganjalan, terutama di luar kawasan ideal.
Transisi energi global juga bukan perkara cepat. Jumlah kendaraan berbahan bakar fosil masih mencapai miliaran unit, dengan infrastruktur senilai triliunan dolar yang telanjur tertanam di seluruh dunia. Meski tak berkelanjutan, bahan bakar fosil masih menjadi tulang punggung transportasi, logistik, hingga sistem kelistrikan darurat.
Karena itu, kemunculan sebuah mesin kecil di atap gedung Manhattan pada musim semi lalu memantik rasa ingin tahu. Mesin tersebut bukan panel surya atau generator, melainkan alat yang mampu memproduksi bensin langsung dari udara. Bentuknya menyerupai peralatan rumah tangga premium, tetapi dampaknya berpotensi besar.
Mesin itu dikembangkan oleh Aircela, startup berbasis di New York yang berdiri sejak 2019. Teknologi mereka menggabungkan penangkapan karbon dioksida langsung dari udara (direct air capture) dengan proses sintesis bahan bakar di lokasi yang sama. Bahan bakunya hanya udara sekitar, air, dan listrik dari sumber terbarukan.
Dalam demonstrasi publik pada Mei 2025 di kawasan Garment District, New York, mesin tersebut terbukti menghasilkan bensin secara real time. Karbon dioksida ditangkap dari udara, lalu dikombinasikan dengan hidrogen hasil pemisahan air melalui proses sintesis mirip Fischer-Tropsch, namun dirancang dalam skala ringkas.
Bensin hasil produksi Aircela tidak mengandung sulfur maupun etanol. Tidak diperlukan modifikasi mesin atau sistem pengisian. Secara kimia, sifatnya identik dengan bensin konvensional, sehingga bisa langsung digunakan pada kendaraan bermesin pembakaran dalam.
Tahap awal, Aircela menargetkan penggunaan di lokasi terpencil, area off-grid, hingga kawasan industri yang selama ini bergantung pada pengiriman bahan bakar jarak jauh. Perusahaan belum merilis detail biaya produksi maupun efisiensi energi, tetapi menekankan modelnya bersifat modular dan terdesentralisasi.
Pendekatan ini berbeda dari pabrik e-fuel skala besar yang membutuhkan investasi raksasa dan produksi terpusat. Aircela justru ingin memproduksi bahan bakar langsung di lokasi kebutuhan, tanpa pipa, kapal tanker, atau kilang besar.
Sejumlah investor ternama telah mendukung Aircela. Di antaranya Maersk Growth, unit investasi A.P. Moller–Maersk, yang melihat peluang teknologi ini untuk dekarbonisasi pelayaran jarak jauh. Dukungan juga datang dari Chris Larsen, pendiri Ripple Labs, serta Jeff Ubben, investor yang juga duduk di dewan ExxonMobil.
Minat terhadap bahan bakar sintetis memang terus meningkat, terutama di sektor yang sulit dialiri listrik, seperti penerbangan, pelayaran, dan industri berat. Uni Eropa bahkan telah memasukkan e-fuel dalam kebijakan iklim Fit for 55, sementara Amerika Serikat masih lebih fokus pada elektrifikasi.
Namun, tantangan tetap besar. Produksi bahan bakar sintetis sangat boros energi. Elektrolisis hidrogen saja membutuhkan sekitar 50–55 kWh per kilogram, belum termasuk energi untuk penangkapan CO₂ dan proses sintesis. Tanpa pasokan listrik terbarukan yang murah dan melimpah, klaim netral karbon sulit tercapai.
Meski begitu, produksi bahan bakar secara lokal menawarkan keunggulan strategis. Dalam kondisi darurat, wilayah terpencil, atau fasilitas militer, kemandirian energi menjadi aset penting. Dengan lebih dari 1,4 miliar kendaraan bermesin pembakaran masih beroperasi di dunia, solusi yang kompatibel dengan sistem lama berpotensi menjadi jembatan transisi energi.
Bukan solusi akhir ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi teknologi seperti ini bisa menutup celah dalam masa transisi—sambil menunggu perubahan besar yang membutuhkan waktu, biaya, dan kebijakan global yang seragam. (*)
