Kamis, 02 Juli 2026 20:13 WIB
Penulis:Pratiwi

(sijori.id) - Pendapatan rumah tangga di Singapura terus menunjukkan tren peningkatan. Data terbaru dari Department of Statistics (DOS) mengungkapkan bahwa sekitar satu dari tujuh rumah tangga kini memiliki pendapatan bulanan sedikitnya 30.000 dolar Singapura, hampir dua kali lipat dibandingkan lima tahun lalu.
Berdasarkan General Household Survey 2025 yang dirilis pada 30 Juni 2026, sebanyak 13,4 persen rumah tangga penduduk (resident households) memiliki pendapatan pasar (market income) minimal 30.000 dolar Singapura per bulan, naik dari 7,4 persen pada 2020.
Pendapatan pasar mencakup penghasilan dari pekerjaan maupun sumber nonpekerjaan, seperti pendapatan sewa properti dan hasil investasi.
Laporan setebal 135 halaman tersebut juga menunjukkan bahwa lebih dari separuh rumah tangga di Singapura kini memiliki pendapatan bulanan sedikitnya 12.000 dolar Singapura. Proporsinya meningkat dari 38,2 persen pada 2020 menjadi 51,6 persen pada 2025.
Survei tersebut mencatat pendapatan pasar median rumah tangga penduduk mencapai 12.446 dolar Singapura per bulan pada 2025. Ini menjadi kali pertama angka median melampaui level 12.000 dolar Singapura.
Sebagai perbandingan, pada 2020 pendapatan median rumah tangga tercatat 9.099 dolar Singapura. Setelah memperhitungkan inflasi, kenaikan tersebut setara dengan pertumbuhan riil rata-rata 3,2 persen per tahun.
Angka tersebut sebelumnya telah dipublikasikan dalam laporan Key Household Income Trends 2025 pada Februari lalu.
Kenaikan pendapatan terjadi pada seluruh kelompok etnis utama di Singapura.
Rumah tangga keturunan India mencatat pertumbuhan pendapatan riil tertinggi, yakni 3,5 persen per tahun. Disusul rumah tangga keturunan Tionghoa sebesar 3,1 persen, sementara rumah tangga Melayu tumbuh 2,3 persen per tahun.
Pada 2025, pendapatan median bulanan rumah tangga keturunan India mencapai 13.382 dolar Singapura, diikuti rumah tangga Tionghoa sebesar 12.969 dolar Singapura, sedangkan rumah tangga Melayu sebesar 8.581 dolar Singapura.
Pendapatan Investasi Semakin Besar
Pendapatan dari pekerjaan masih menjadi sumber utama penghasilan keluarga di Singapura dengan kontribusi hampir 80 persen dari total pendapatan rumah tangga pada 2025.
Namun, porsinya menurun dibandingkan 85 persen pada 2020.
Sebaliknya, kontribusi pendapatan dari sumber nonpekerjaan, terutama hasil investasi, meningkat cukup signifikan, dari 9,6 persen menjadi 13,5 persen dalam periode yang sama.
Keluarga dengan Dua Pencari Nafkah Semakin Dominan
Laporan juga menunjukkan semakin banyak pasangan suami istri yang sama-sama bekerja.
Pada 2025, sebanyak 56,6 persen pasangan menikah merupakan keluarga dengan dua pencari nafkah (dual-income households), meningkat dari 52,5 persen pada 2020.
Di sisi lain, proporsi keluarga yang hanya mengandalkan penghasilan suami turun dari 24,9 persen menjadi 21 persen. Sementara itu, rumah tangga yang hanya istri yang bekerja relatif stabil, yakni 7,5 persen, sedikit naik dibandingkan 7,4 persen lima tahun sebelumnya.
Ekonom Soroti Peran Investasi dan Imigran Berketerampilan Tinggi
Associate Professor Ekonomi dari Singapore University of Social Sciences, Walter Theseira, menilai meningkatnya jumlah keluarga berpenghasilan tinggi dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari pertumbuhan pasangan dengan dua sumber pendapatan hingga kenaikan upah nominal dalam lima tahun terakhir.
Menurutnya, kinerja pasar modal yang positif juga mendorong peningkatan pendapatan rumah tangga melalui hasil investasi.
Sementara itu, Assistant Professor Sosiologi dari Nanyang Technological University, Shannon Ang, mengatakan kehadiran imigran baru, termasuk penduduk tetap (permanent resident), yang umumnya memiliki keterampilan tinggi dan pendapatan besar turut mengangkat rata-rata pendapatan rumah tangga di Singapura.
Direktur Eksekutif Institute of Adult Learning, Terence Ho, menambahkan bahwa kenaikan pendapatan tidak hanya dinikmati kelompok berpenghasilan tinggi, tetapi juga terjadi di berbagai lapisan masyarakat.
Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah tetap perlu memastikan pertumbuhan pendapatan berlangsung secara merata agar peningkatan kemakmuran tidak memicu kenaikan biaya hidup.
Para pengamat juga menilai meningkatnya kontribusi pendapatan investasi dapat memperlebar ketimpangan pendapatan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memunculkan kembali perdebatan mengenai kebijakan perpajakan Singapura, yang selama ini lebih banyak berfokus pada pendapatan dari pekerjaan dan kepemilikan properti dibandingkan keuntungan investasi. (*)
Bagikan