Grab Siapkan Penyesuaian Bisnis di Indonesia

Jumat, 08 Mei 2026 08:55 WIB

Penulis:Pratiwi

grab2.jpg

SINGAPURA (sijori.id) - Perusahaan transportasi dan layanan digital asal Singapura, Grab, berencana menyesuaikan model bisnisnya di Indonesia setelah pemerintah menetapkan kebijakan baru terkait pemangkasan komisi layanan ojek online.

Langkah tersebut muncul setelah Presiden Prabowo Subianto mengumumkan batas maksimal komisi aplikasi ride-hailing sebesar 8 persen dari tarif perjalanan, turun signifikan dari sebelumnya sekitar 20 persen.

Chief Financial Officer Grab, Peter Oey, mengatakan perubahan regulasi tersebut akan memengaruhi struktur tarif dan model bisnis perusahaan, khususnya untuk layanan roda dua di Indonesia.

“Kami memiliki cukup banyak instrumen bisnis untuk mengimbangi dan meredam dampaknya. Namun untuk Indonesia, struktur tarif dan model bisnis roda dua kemungkinan harus dikalibrasi ulang,” ujar Oey dalam wawancara video.

Meski demikian, Grab menilai dampak kebijakan tersebut masih terbatas karena diperkirakan hanya berlaku untuk layanan kendaraan roda dua, bukan mobil.

Chief Operating Officer Grab, Alex Hungate, menjelaskan bahwa layanan roda dua di Indonesia menyumbang kurang dari 6 persen terhadap volume bisnis mobilitas perusahaan secara keseluruhan.

Indonesia sendiri merupakan pasar ride-hailing terbesar di Asia Tenggara dengan jutaan pengemudi bergantung pada layanan transportasi dan pengantaran berbasis aplikasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, protes pengemudi ojek online terkait pendapatan dan kondisi kerja semakin sering terjadi. Banyak mitra pengemudi menilai kebijakan platform digital cenderung merugikan mereka dan kurang mendapat perlindungan regulasi.

Pemerintah Indonesia juga dikabarkan akan mewajibkan platform ride-hailing menyediakan perlindungan asuransi kecelakaan dan kesehatan bagi pengemudi.

Di tengah tantangan regulasi tersebut, Grab tetap membukukan kinerja keuangan yang lebih baik dari perkiraan analis pada kuartal pertama 2026. Pendapatan dan laba operasional perusahaan tercatat melampaui ekspektasi pasar.

Perusahaan juga mempertahankan proyeksi pendapatan tahun penuh 2026 sebesar US$4,04 miliar hingga US$4,1 miliar dengan target pertumbuhan sekitar 20-25 persen.

Selain menghadapi perubahan regulasi, Grab masih bersaing ketat dengan rival utamanya di Indonesia, GoTo Group
.

Dalam beberapa tahun terakhir, Grab disebut terus menjajaki peluang merger dengan GoTo guna mengurangi persaingan sengit di pasar Asia Tenggara. Namun proses tersebut masih menghadapi berbagai hambatan, termasuk pengawasan regulator dan perbedaan valuasi.

Grab juga mulai memperluas bisnis di luar Asia Tenggara. Perusahaan baru saja mengakuisisi operasional Foodpanda di Taiwan senilai US$600 juta sebagai langkah ekspansi ke pasar baru.

Selain layanan transportasi dan pengantaran makanan, Grab kini semakin agresif mengembangkan bisnis digital finance serta fitur berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mempertahankan pertumbuhan pengguna di tengah kondisi ekonomi yang melambat. (*)