J&T Express Daur Ulang 146 Kg Seragam Kurir Jadi Produk Baru, Tekan Emisi CO₂

Senin, 14 September 2026 18:32 WIB

Penulis:Pratiwi

JnT.jpg

JAKARTA (sijori.id)) – Seragam operasional kurir yang sudah tidak digunakan biasanya berakhir sebagai limbah tekstil. Namun, J&T Express memilih memperpanjang masa manfaat material tersebut dengan mengolahnya menjadi berbagai produk baru.

Inisiatif tersebut menjadi bagian dari J&T Express Sustainability Impact Program (J&T SIP), program yang menggabungkan upaya pengurangan dampak lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat.

Dalam program ini, seragam operasional kurir yang telah melewati masa pakai dibersihkan dan kemudian diolah kembali menjadi sejumlah produk, mulai dari pouch, reusable bag, bag charm hingga notebook cover.

Dalam pelaksanaannya, J&T Express menggandeng Liberty Society, social enterprise yang memiliki sertifikasi B Corp.

Brand Manager J&T Express Herline Septia mengatakan seragam merupakan bagian dari aktivitas operasional perusahaan logistik. Ketika masa penggunaannya berakhir, material tersebut masih memiliki peluang untuk dimanfaatkan kembali.

“Sebagai perusahaan logistik, aktivitas kami sehari-hari tidak terlepas dari penggunaan seragam sebagai bagian dari operasional. Ketika masa pakai seragam sudah berakhir, kami melihat adanya kesempatan untuk mengolahnya kembali menjadi sesuatu yang tetap memiliki fungsi dan nilai, daripada berakhir sebagai limbah,” ujar Herline dalam keterangan tertulis, Rabu (9/9).

146 Kg Limbah Tekstil Diolah

Melalui program tersebut, sebanyak 146 kilogram limbah tekstil berhasil diolah menjadi merchandise kit.

Proses upcycling tersebut diperkirakan dapat menghindari emisi sebesar 1,25 ton CO₂e. Angka itu disebut setara dengan emisi dari perjalanan mobil berbahan bakar bensin sejauh kurang lebih 5.000 kilometer.

Program ini tidak hanya berfokus pada persoalan limbah. J&T Express juga memasukkan aspek pemberdayaan masyarakat dalam proses produksinya.

Melalui kerja sama dengan Liberty Society, perempuan perajin dari komunitas marginal dilibatkan dalam proses pembuatan berbagai produk hasil upcycling tersebut.

Selama proses produksi, kolaborasi itu menghasilkan sekitar 1.488 jam kerja produktif. Selain memberikan kesempatan ekonomi, kegiatan tersebut juga mendukung pengembangan keterampilan para perempuan perajin.

“Bagi kami, keberlanjutan tidak berhenti pada bagaimana mengurangi limbah, tetapi juga bagaimana menciptakan manfaat yang lebih luas. Karena itu, yang ingin kami ciptakan bukan hanya sekadar produk baru, tetapi juga nilai dan manfaat yang terus berlanjut, termasuk bagi masyarakat yang terlibat dalam prosesnya,” lanjut Herline.

Mengubah Seragam Menjadi Produk Bernilai

J&T Express menyebut program tersebut sebagai salah satu langkah perusahaan dalam menerapkan prinsip keberlanjutan ke dalam aktivitas operasional.

Alih-alih membuang seragam yang sudah tidak digunakan, materialnya diberi fungsi baru melalui proses pengolahan kembali. Produk yang dihasilkan kemudian memiliki kegunaan berbeda dari fungsi awalnya sebagai pakaian kerja.

Bagi perusahaan, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjalankan kegiatan bisnis dengan mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan sekaligus manfaat sosial bagi masyarakat yang terlibat.

J&T Express didirikan pada 2015 dan saat ini menjalankan jaringan bisnis di sejumlah negara, termasuk Indonesia, Vietnam, Malaysia, Filipina, Thailand, Kamboja, Singapura, China, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Meksiko, Brasil, dan Mesir.

Melalui J&T SIP, perusahaan menyatakan akan terus mengeksplorasi berbagai inisiatif untuk memasukkan prinsip keberlanjutan ke dalam aktivitas perusahaan. (*)