Startup AS Ajukan Kapal 3D Printing ke Pentagon

Kamis, 04 Juni 2026 12:57 WIB

Penulis:Pratiwi

Editor:Pratiwi

boat-3d.jpg

(sijori.id) - Sebuah startup berbasis di Hawaii, Amerika Serikat, mengajukan kapal militer hasil cetak 3D kepada Departemen Pertahanan AS (Pentagon) sebagai solusi baru untuk mempercepat produksi armada dan menyederhanakan rantai pasok logistik militer.

Perusahaan bernama Voltage Vessels mengembangkan kapal jenis Rigid Hull Inflatable Boat (RHIB) sepanjang enam meter menggunakan sistem manufaktur aditif skala besar dari CEAD. Teknologi ini memungkinkan kapal diproduksi langsung di lokasi operasi hanya dengan memanfaatkan file digital dan printer 3D berukuran besar.

Konsep tersebut dinilai dapat mengurangi ketergantungan militer terhadap rantai pasok jarak jauh. Sebagai ilustrasi, pengiriman peralatan dari Okinawa, Jepang, ke San Diego, Amerika Serikat, menempuh jarak lebih dari 10.500 kilometer. Dengan teknologi ini, kapal dapat dicetak langsung di pangkalan atau wilayah operasi tanpa harus dikirim dari pusat produksi.

 

Gunakan Material Basalt Daur Ulang

Selain metode produksinya, inovasi lain yang ditawarkan Voltage Vessels terletak pada material penyusunnya. Jika kapal kecil umumnya dibuat menggunakan fiberglass dan plastik konvensional, kapal cetak 3D ini menggunakan kombinasi plastik PETG daur ulang dan serat basalt cincang.

Material yang diberi nama Eclipse X9 tersebut diklaim memiliki kekuatan tarik lebih tinggi dibandingkan material HDPro yang saat ini umum digunakan pada printer 3D maritim milik CEAD.

Keunggulan lain yang menarik perhatian adalah sifat material basalt yang tidak menghantarkan listrik. Karakteristik ini dinilai berpotensi mengurangi gangguan terhadap sistem elektronik dan komunikasi yang digunakan kapal otonom maupun platform nirawak.

 

Berpotensi Kurangi Jejak Radar

Voltage Vessels juga tengah mengevaluasi transparansi material Eclipse X9 terhadap frekuensi radio tertentu. Secara teoritis, material yang tidak konduktif dapat membantu mengurangi radar cross section (RCS) atau jejak radar sebuah objek.

Meski kemampuan siluman suatu kendaraan tetap bergantung pada kombinasi bentuk fisik dan material penyerap radar, penggunaan material transparan terhadap gelombang radio dapat memberikan keuntungan tambahan, terutama pada kapal kecil dan sistem nirawak yang memiliki ukuran relatif mungil.

Pendekatan serupa juga sedang diteliti oleh sejumlah lembaga riset lain. Beberapa peneliti sebelumnya mengembangkan lapisan khusus berbahan vulkanik yang dapat disemprotkan pada drone dan kendaraan tanpa awak untuk membantu mengurangi deteksi radar.

 

Sejalan dengan Strategi Militer AS

Pengembangan kapal cetak 3D ini sejalan dengan upaya Angkatan Laut Amerika Serikat yang tengah memperluas pemanfaatan manufaktur aditif untuk kebutuhan militer.

Militer AS diketahui memiliki rencana menempatkan sekitar 100 printer 3D logam berukuran besar di berbagai pangkalan dan lokasi strategis di seluruh dunia. Hingga saat ini, teknologi tersebut lebih banyak digunakan untuk memproduksi komponen dan suku cadang.

Proposal Voltage Vessels membawa konsep tersebut ke level berikutnya dengan memungkinkan pencetakan lambung kapal secara langsung di lokasi operasi.

Perusahaan itu bahkan memperkirakan kapasitas produksi hingga 15.000 ton material per tahun. Dengan asumsi satu RHIB sepanjang 20 kaki atau sekitar enam meter memiliki bobot sekitar 600 kilogram, kapasitas tersebut secara teoritis dapat menghasilkan puluhan ribu lambung kapal setiap tahun, tergantung ukuran dan desain yang digunakan.

Jika berhasil lolos evaluasi Pentagon, teknologi ini berpotensi mengubah cara militer memproduksi dan mendistribusikan kapal kecil di berbagai wilayah operasi dunia, sekaligus memangkas biaya logistik dan waktu pengadaan armada. (*)